YOGYAKARTA, fornews.co – Siapa tidak kenal Kopi Merapi? Bagi penikmat kopi di Yogyakarta tentu sangat kenal Kopi Merapi. Kopi yang memiliki kekhasan tersendiri. Bahkan menarik perhatian penikmat kopi di seluruh dunia.
Lahan seluas 2000 meter persegi di ketinggian 1000 mdpl yang kini ditanami pohon kopi, berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, adalah bekas rumah Kasno yang hancur karena awan panas 2010 silam.
“Dulu lahan ini hancur terkena awan panas,” kenang Kasno (65 tahun) warga Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Ahad.

Warung Kopi Pak Kasno muncul dari namanya yang sederhana. Ia akrab dipanggil Pak Kasno. Berada di selatan petilasan Mbah Maridjan berjarak 1 km dari Kinahrejo.
Pak Kasno menanam kopi sejak 2011 setelah erupsi Merapi berlalu. Bantuan bibit kopi ia terima dari relawan.
“Pada umumnya korban menginginkan bantuan yang bisa langsung digunakan,” katanya, “misalnya uang atau pangan.”
Karena tidak ada yang mempedulikan bibit-bibit kopi tersebut, tambah Pak Kasno, daripada terbuang sia-sia bibit-bibit kopi yang masih layak ditanam ia kelola dengan tekun.

Secangkir kopi racikan Pak Kasno dibandrol 10 ribu rupiah. Kopi hasil olahannya diminati pecinta kopi asal Eropa. Bahkan banyak wisatawan mancanegara datang ke tempat Pak Kasno.
Ada dua pilihan untuk sampai di kebun kopi Pak Kasno di Desa Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Jika melewati Jalan Monjali butuh waktu sekitar sejam lebih. Jaraknya berkisar 31,1 km dari nol kilometer Kantor Pos Kota Yogyakarta. Sedangkan melewati Jalan Kaliurang (Jakal) dengan jarak 26,3 km, jika tidak macet, lama perjalanan bisa memakan waktu 50 menit.
Dari kopi Pak Kasno bisa menikmati keindahan alam Gunung Merapi. Atau berkunjung ke museum awan panas di Kinahrejo. Sebuah tempat bekas rumah Mbah Maridjan yang tersapu awan panas. (adam)

















