PALEMBANG, fornews.co – Selama satu bulan ini begitu banyak pengguna Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), khususnya jalur Lampung-Palembang, yang mengeluh akibat banyaknya lubang yang menganga di jalan tersebut.
Tak hanya banyak lubang, saat malam kondisi jalan tol tersebut cukup gelap, lantaran lampu atau penerangan di sepanjang jalan tidak ada. Kalaupun ada, itu hanya sebagian saja. Jalan berlubang tersebut banyak ditemui setelah Kilometer 240 atau saat mulai masuk Mesuji menuju ke Kayuagung.
Para pengguna jalan mulai mempertanyakan kualitas JTTS ruas Terpeka (Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung) dan Terbanggi Besar-Bakaheuni yang jauh dari kondisi jalan tol yang ada di Pulau Jawa.
Menurut salah satu pengguna jalan, Sidratul Muntaha, saat melintas dari arah Lampung menuju Palembang, banyak sekali lubang-lubang dan tanda-tanda peringatan yang mengganggu perjalannya.
“Ya saya kan masuk jalan ini bayar. Ini kan Namanya jalan tol yang bebas hambatan dan pengguna butuh kenyamanan. Ini malah sebaliknya, sudah banyak berlubang, saat malam sangat gelap tanpa lampu,” kata dia.
Ketua Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Sumsel ini mengungkapkan, seharusnya pengelola jalan harus fast respons dengan kondisi jalan yang tidak sempurna tersebut.
“Jalan tol Lampung – Palembang ini kualitasnya sangat jauh dan berbeda dari yang ada di Jawa. Dudah banyak yang rusak, penanganannya lambat. Kendaraan saya berapa kali kena jebakan lubang di ruas tol ini. Mungkin ini bukan jalan tol, tapi ini jalan pintas berbayar,” ungkap dia.
Sidratul mengungkapkan, seharusnya pengelola tol langsung melakukan perbaikan atau bersikap. Jangan sampai masyarakat menganggap proyek strategis nasional (PSN) yang menghabiskan dana triliunan rupiah tersebut dikerjakan asal jadi.
“Wajar juga sebagai pengguna kami meminta pelayanan yang terbaik. Saya tak mau berharap, tapi soal kualitas itu memang wajib dari pengelola jalan. Lebih baik ditutup untuk perbaikan, daripada terus memungut bayaran tapi bisa bikin celaka pengguna jalan,” jelas dia.
Keluhan juga sudah banyak yang disampaikan pengguna jalan di media sosial, baik yang muncul di facebook maupun di instagram. sama seperti pengguna lain, keluhan ini soal banyaknya lubang yang seolah dibiarkan saja oleh pengelola jalan.
Sementara, pihak pengelola jalan yang tak lain PT Hutama Karya, justru berdalih jalan tol tersebut masih dalam perbaikan. Bahkan disebut masih ditangani oleh kontraktor yang membangun.
Executive Vice President (EVP) Divisi Operasi dan Pemeliharaan Jalan Tol (OPT) Hutama Karya, Dwi Aryono Bayuaji mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan pendataan titik jalan yang rusak di ruas Terpeka dan Terbanggi Besar-Bakaheuni.
Sejauh ini, sambung dia, data yang terkumpul ada 70 titik kerusakan jalan yang berada di kedua ruas jalan tersebut. Dengan rincian, ada 17 titik di ruas Jalan Tol Bakauheni – Terbanggi Besar serta 53 titik di ruas Terpeka.
“Perbaikan jalan tersebut dilakukan secara rutin terutama pada saat musim hujan, sehingga kami meminta pengguna jalan untuk berhati-hati pada saat melintas,” kata Dwi dalam keterangan persnya yang diterima, Senin (20/12/2021).
Dwi melanjutkan, ruas-ruas di JTTS memiliki karakteristik jalan yang cukup berbeda. JTTS dibangun di wilayah yang cukup unik. Ada yang di atas rawa bahkan lahan gambut. Sehingga perlu penanganan ekstra dalam pemeliharaan jalannya agar lebih maksimal dan sesuai dengan perkerasan awal.
“Saat ini pemeliharaan dan perbaikan jalan di JTTS masih ditangani oleh kontraktor yang membangun,” ujar dia.
Dijelaskannya, proses pemeliharaan jalan tidak hanya dilakukan dengan mekanisme konstruksi. Dwi menuturkan, pihaknya juga rutin melakukan penindakan terhadap angkutan Over Dimensi dan Over Load (ODOL).
“Karena dua hal tersebut memang sangat berdampak pada kerusakan perkerasan jalan. Sehingga, itulah alasan kebijakan kendaraan yang didapati ODOL, wajib untuk diputarbalikan pada saat razia ODOL,” tambah Dwi.
Proses pemeliharaan, lanjutnya, juga diselaraskan dengan lingkungan yang ada. Sebelum dilakukan perbaikan, pihaknya terlebih dahulu mengindentifikasi daerahnya. Jenis lokasinya apakah daerah timbunan atau galian. (yan)

















