PALEMBANG, fornews.co – Puluhan atlet dan orang tuanya menggelar latihan di depan gerbang utama Jakabaring Sport City (JSC), Senin (14/01) sore. Hal itu sebagai bentuk protes penerapan tiket masuk elektronik.
Sejak diberlakukannya sistem tiket masuk elektronik, pengeluaran atlet dan orang tua yang mengantar anaknya latihan bertambah besar. Apalagi tidak ada toleransi yang diberikan pengelola tiket masuk kepada atlet yang akan masuk ke kawasan JSC.
“Saya keberatan dengan penerapan tiket masuk kendaraan sepeda motor Rp5.000 dan setiap orang dikenakan Rp3.000. Karena anak saya ini latihan hampir setiap hari, dan saya juga mengantar dan menjemput anak,” ujar Lusi salah satu orang tua atlet.
Menurut Lusi, sebelumnya dirinya sudah memberitahukan kepada petugas tiket kalau dirinya adalah orang tua yang mengantar dan jemput anaknya yang berlatih di JSC. Tetapi tetap saja dirinya dilarang masuk jika tidak membayar sesuai ketentuan. “Alasannya (petugas tiket) cuma bekerja dan menjalankan instruksi dari atasannya. Selama kami gak bayar ya dilarang masuk,” tuturnya.
Hal serupa dialami Ita yang juga mengantarkan anaknya berlatih di kawasan JSC. Dia sangat keberatan dengan pemberlakuan tiket masuk elektronik ini. Menurutnya, saat mengantarkan dan menjemput anaknya latihan, dia harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp14.000 per hari.
“Kalau diakumulasikan satu bulan bisa sampai setengah juta untuk bayar tiket masuk JSC saja. Jelas sangat memberatkan, karena kami juga punya kebutuhan rumah tangga lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, atlet anggar Sumsel, Aldo Pratama, juga menyatakan keberatannya. Menurutnya, hal ini cukup menghambat latihan para atlet di kawasan JSC.
“Mau latihan saya sudah semangat dari sekolah. Tapi adanya biaya masuk itu membuat saya merasa kurang bersemangat dan terlambat,” ujar peraih medali emas kejuaraan Under 16 di Thailand 2018 ini.
Merespons tuntutan para atlet, Direktur Operasi PT Palang Parkir Indonesia AdityaDirektur Operasional PT Palang Parkir Indonesia (PPI) Aditya Purnawan Sestya, mengatakan, pihaknya hanya menjalankan prosedur dari JSC.
“Kami hanya melaksanakan prosedur dari PT JSC. Kami hanya melakukan elektronisasi tiket masuk, sedangkan tarif masuk itu dasarnya adalah Perda tahun 2005 lalu. Kami juga tidak tahu mengapa baru diberlakukan sekarang,” tuturnya.
Aditya menerangkan, tidak menutup kemungkinan bagi para atlet yang berlatih di JSC diberikan tiket khusus.
“Nanti kami akan mengadakan pembicaraan untuk atlet menggunakan tiket izin khusus. Tapi untuk itu kami juga menunggu perintah dari JSC,” katanya. (irs)

















