JAKARTA, fornews.co – New media dan perempuan menjadi isu pada workshop Trusted News Indicator kedua yang dihadirkan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dengan dukungan Internews dan USAID MEDIA, secara daring, Rabu (12/4/2023).
Sekadar informasi, bahwa Workshop Trusted News Indicator ini untuk mensosialisasikan indikator kepercayaan publik kepada media-media anggota AMSI, serta menyerap masukan dan tanggapan pemangku kepentingan, regulator, hingga aktivis perempuan terkait pedoman media terpercaya.
Menurut Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut, Undang Undang Pers harus menjadi pedoman bagi jurnalis, utamanya media siber. Wenseslaus
menekankan pentingnya jurnalis mengabdi dan melakukan kerja pemberitaan untuk kepentingan publik, termasuk di dalamnya spesifik soal perempuan dan anak.
Pria yang akrab disapa Kak Wens itu melanjutkan, lanskap media saat ini, bertabur banyak media termasuk platform media sosial, yang secara terbuka mengekspos kekerasan perempuan, serta kata kasar (hatespeech), perundungan (bullying), dan identitas atau eksploitasi terhadap anak-anak.
“Media harus menarik garis demarkasi yang terang antara media dengan platform yang tidak tersentuh literasi itu. Media harus lebih sensitif terutama menyangkut anak dan perempuan. Maka dari itu AMSI membuat indikator kepercayaan publik ini, salah satu dari 11 poin yang disusun AMSI adalah pedoman pemberitaan terpercaya fokus isu perempuan dan anak,” ujar dia.
Chief of Party Internews Indonesia, Eric Sasono mengungkapkan, bahwa sependapat dengan konsep trustworthy news yang kompleksnya kondisi di ekosistem media Indonesia saat ini. Karena masih banyak media yang belum menerapkan penyebarluasan edukasi dan literasi tentang perlindungan perempuan dan anak, sebagai kelompok rentan.
Hal ini disebabkan oleh kuatnya penerapan kultur patriarki dimana editorial media maupun audiens umum masih gemar membaca tentang eksploitasi perempuan dan anak,” ungkap dia.
“Penerapan trusted news ibarat jalan terjal, karena perubahan pandangan dan budaya (Patriarki) di Indonesia. Di atas kertas, AMSI sudah memulai dengan menjalankan pedoman trustworthy news dalam kegiatannya menghimpun indikator kepercayaan publik sebagai landasan operasional pemberitaan di redaksi,” imbuh dia.
Pemapar Trusted News Indicator, CEO Kabar Group Indonesia (KGI) Network, Upi Asmaradhana, yang juga Koordinator wilayah AMSI Indonesia Timur menjelaskan, AMSI menampung aspirasi, gagasan, dan catatan kritis anggota AMSI, serta membuka masukan berbagai pihak mulai dari pemerintah, korporasi dan akademisi soal rumusan 11 indikator yang sudah dibuat melalui proses yang panjang.
“Nah tujuan 11 item Trust News Indicator adalah sebagai guideline teknis pedoman awak redaksi untuk membangun interaksi kepada audiens, memelihara kepercayaan publik, sekaligus brand safety,” jelas dia.
Masuk sesi diskusi, Ketua Dewan Pers, Dr. Ninik Rahayu SH MS menyampaikan, Dewan Pers menyambut baik dan mengapresiasi upaya AMSI membangun Trusted News Indicator. Tak hanya fokus pada kepercayaan perusahaan pers secara luas, namun indikator yang disosialisasikan juga tetap memastikan penghapusan diskriminasi berbasis gender (perempuan dan anak).
“Pers berpengaruh pada pembentukan opini dan sikap individu maupun masyarakat, serta menjadi medium untuk penghapusan diskriminasi berbasis gender. Hubungan timbal balik antara pers dan norma sosial di masyarakat, membentuk interaksi sosial dan perubahan sosial. Tantangannya adalah pers harus bisa menyerap perspektif patriarki dan diskriminasi berbasis gender di masyarakat,” ujar dia.
Kemudian, Founder of Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Prof Dr Musdah Mulia, MA, APU ikut mendukung Trusted News Indicator yang digarap AMSI. Musdah juga memberi masukan terkait pentingnya menjunjung tinggi nilai universal, hak asasi manusia, nilai luhur pancasila, dan menghargai identitas keberagaman/kebhinekaan di Indonesia.
“Media sebagai produk budaya yang merupakan konstruksi sosial memiliki peran dalam perubahan. Untuk merekonstruksi budaya (media) secara sistematis, bisa dilakukan dengan perubahan, yakni melalui pendidikan atau penguatan literasi. Upaya literasi penting menyadarkan semua orang, membuat kita menjadi bangsa berkeadaban,” kata dia.
Sementara, Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Titi Eko Rahayu, SE, MAP menerangkan, fungsi dan kedudukan pemerintahan ini sebagai fasilitator mengintegrasikan kebijakan program Kementerian dengan stakeholder. Dalam hal ini, pedoman media terkait perempuan dan anak di ranah tupoksi Kementerian PPPA.
“Pemberitaan kesetaraan gender dan rekonstruksi budaya bisa dilakukan sesering mungkin agar tidak mudah tenggelam, tergantikan dengan pesan lain yang justru bisa melanggengkan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Caranya bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan trend terkini agar sosialisasi gender bisa dipahami. Upaya itu harus terus diperkuat, Kementerian PPPA terbuka untuk fasilitasi diskusi/pelatihan lanjutan” terang dia.
Indikator keterpercayaan publik mulai disusun AMSI sejak pertengahan 2021 melalui serangkaian diskusi kelompok terfokus (FGD) di Jakarta dan Makassar. Melibatkan lebih dari 50 pemilik dan pengelola media anggota AMSI, penyelenggara negara, agen periklanan global, akademisi, pengusaha, kelompok masyarakat sipil, dan lain-lain.
Workshop Trusted News Indicator seri kedua ini dihadiri oleh 50 peserta dari seluruh AMSI wilayah di Indonesia. Seri ketiga akan diselenggarakan bulan Mei 2023 dengan mengangkat kepercayaan publik dari perspektif pelaku ekonomi dan bisnis. (aha)