
Pengunjung lokal berada di Pagaralam sign, salah satu ikon kultural Kota Pagaralam yang terletak di Tugu Rimau atau titik awal pendakian Gunung Dempo, di ketinggian 1.820 Mdpl (fornews.co)
PAGARALAM-Dengan anugrah keindahan alamnya, Kota Pagaralam bisa menjadi kandidat salah satu kota tercantik di Asia, seperti Kota Kucing (Serawak). Tapi, semua itu tergantung sejauh mana konsen pemerintah kota (pemkot) setempat untuk menjadikan Tanah Besemah menjadi jauh lebih dikenal dunia.
Hal tersebut diungkapkan Staff Ahli Kementerian Pariwisata Taufik Razen, setelah berkunjung langsung ke Pagaralam, saat menjadi narasumber Jambore Pecinta Alam yang digelar Forum Pecinta Alam (Forpa) Besemah, 25-27 November lalu.
“Pagaralam mengingatkan saya pada Kota Kucing (Serawak), yang merupakan salah satu kota cantik di Asia. Pagaralam bisa menjadi kandidat (kota cantik di Asia) itu, kalau mampu dikelolah dengan baik. Kita berharap ini bisa jadi perhatian dari pemerintah. Misalnya, untuk outdoor museum yang banyak dan cukup bagus. Namun, indoor museum itu harus menjadi identitas sebuah kota. Saya belum lihat apakah di sini ada indoor museum, karena tidak muncul secara eksplisit dan orang harus melihat itu,” ungkapnya, saat dibincangi fornews.co, Sabtu (26/11).

Saat pertama kali datang ke Kota Pagaralam kemarin, Razen menceritakan, the first impression atau kesan yang paling awal, pertama kota ini sangat berjiwa. Bukan saja dari sudut alamnya, karena alamnya pasti dibentuk dalam waktu yang cukup lama. Namun yang dia perhatikan tata kotanya lumayan bagus. Baik perencanaan tata kota yang baru, maupun tata kota yang lama, rumah-rumah identitasnya kuat. Seperti perluasan baik wilayah kantor, rumah wali kota, kemudian hamparan kebun teh yang mulai bersambung. Selanjutnya rumah panggung dari kayu yang karakternya sangat kuat.
“Berikutnya dinamiks, artinya interaksi kota itu terasa. Jadi, Pagaralam itu bisa menjadi salah satu model kota yang mengalami transformasi dari suatu yang lama ke yang baru. Karena warisan kulturalnya itu yang sangat tinggi, bisa dari Besemahnya, gunungnya, ini kota mungil yang cantik,” urainya.
Pria yang juga budayawan ini meneruskan, dengan semua yang dimiliki Pagaralam ini, seharusnya ada pusat-pusat intelektual dalam bentuk toko buku independent. Meski itu tidak menguntungkan, tapi itu harus didorong. Karena itulah yang nanti akan memancing munculnya hal-hal lain, seperti penerbitan, komunitas-komunitas wartawan. “Bayangan saya itu, ada satu cafe atau kedai teh atau kopi yang heritage tempat para wartawan ketemu, orang yang suka buku juga ketemu dan sebagainya. Karena saya lihat banyak budayawan-budayawan di sini yang cukup baik,” ujarnya.
Kemudian, papar Razen, tentang pasar tradisional. Karena pasar ini merupakan jiwa dan rahim dari sebuah kota, dimana semua orang bisa bertemu. Orang yang ingin pergi dan bertemu banyak orang yang ke pasar. Tidak mesti pasar itu harus bersih dan modern, tapi karakter itu harus dimunculkan. “Dengan kita lihat sebentar di Pasar Pagaralam tadi, ada orang yang berjualan kuduk, jaring ikan dan sebagainya. Itu juga harus sengaja dibuat penjualan barang-barang petani, etnis, kain-kain, jenis makanan, buah-buahan. Mall paling bagus dari sebuah kota itu ya pasar tradisi,” katanya.
Terkait kendala pemerintah minimnya anggaran pariwisata, Razen mengungkapkan, bahwa sebenarnya itu hanya kesalahan dari kebijakan anggaran. Karena pariwisata ini dari dulu dianggap sebagai buangan atau sampingan. Itu sudah kesalahan fundamental. Kalau yang lain bisa besar, mengapa pariwisata tidak bisa. Sekarang ini, bisa dilihat Pagaralam sama seperti Banyuwangi, yang memiliki anggaran sama. Tapi mengapa pariwisata Banyuwangi bisa cepat berkembang. Karena pemerintah Banyuwangi bisa menganggarkan secara bijaksana.

“Leading sector koor dari ekonomi itu adalah pariwisata. Jadi tidak bisa kalau kita masih menganggap bahwa koor ekonomi itu perkebunan, justru hasil perkebunan sudah jatuh semua, lihat saja harga teh, karet, sawit. Begitu juga hasil tambang seperti batu bara. Perkebunan dan tambang ini sekarang bukan lagi mendatangkan uang, justru membebani. Nah, mengapa itu tidak di transformasikan dalam bentuk pariwisata dan ekonomi bergerak,” tegasnya.
“Karena, dimana ada pariwisata, ekonomi daerah akan bergerak dengan sangat tinggi. Menurut saya itu kebijakan itu kesalahan dari pemerintah, termasuk DPRD. Itukan political will. Sekarang ini, begitu Kementerian Pariwisata melihat kebijakan anggaran pariwisata daerah hanya sambilan atau sampingan, itu sudah tidak dilihat lagi. Berarti pemerintah tersebut tidak mau. Ada sekitar 550 kabupaten/kota di Indonesia ini yang harus diperhatian dan Kementerian Pariwisata akan mengambil daerah yang betul-betul punya konsen pada parawisata. Ngapain kalau masyarakat di sini tidak mau atau pemerintah daerahnya tidak mau, tapi malah ada orang yang datang dari jauh untuk membangun kota itu. Sederhana sekali kok, tidak serumit yang dikira,” urainya.

Razen melanjutkan, kalau sekarang anggaran untuk pariwisata Pagaralam hanya Rp3 miliar, mengapa tidak dinaikkan Rp20 miliar. Semua inikan mereka yang menentukan, mungkin bisa mengurangi yang lain dulu, toh dampaknya juga ke masyarakat. Walau tidak ada satu kegiatan yang langsung berdampak pada masyarakat, dan contohnya banyak sekali, ada beberapa yang bisa dikelola dengan baik.
Pagaralam bisa menjadi sebuah tempat destinasi pariwisata, asal sebut Razen, pertama harus ada atraksi (kegiatan budaya masyaralat). Pagaralam sendiri atraksi budayanya cukup besar, ada kebun teh, gunung, besemah, megalith, serta keindahan kota yang nyaman dan yang paling utamanya iklim. Kemudian akses, inikan sulit-sulit mudah. Karenakan sudah ada perjalanan lewat udara, tinggal diperluas lagi. Tapi itu bukan berarti tidak ada, namun harus ada kemauan politik dan mau mengembangkannya. “Terakhir amenitas (infrastruktur pariwisata), seperti hotel, tempat wisata, homestay. Semua ini yang harus menyediakannya masyarakat, sama seperti atraksi,” sebutnya.
Razen meyakinkan, Pagaralam ini sendiri bisa menjadi sangat besar tidak hanya untuk Sumsel, melainkan bisa untuk Indonesia, karena aksesibilitasnya sudah ada. “Saya bandingkan dengan Kota Banyuwangi. Kota (Banyuwangi) inikan airport nya tidak ada, kemudian dibuat. Datang dua kali seminggu, sama seperti di Pagaralam. Tapi sekarang, bisa sehari tujuh kali penerbangan dan itu penuh. Itu betapa cepatnya perubahan, hingga melebihi pendatapan daerah tiga kalinya. Hal yang paling penting, masyarakatnya bangga dengan daerahnya,” tandasnya. (tul)

















