NEW YORK, fornews.co — Pertumbuhan mata uang kripto yang pesat dalam beberapa tahun terakhir membawa peluang sekaligus risiko besar.
Di balik potensi keuntungan, penipuan kripto semakin marak dan menyasar investor pemula maupun berpengalaman. Kejahatan berbasis aset digital bahkan sempat mencetak rekor kerugian global.
Dikutip dari laman Kaspersky, Chainalysis, perusahaan analitik blockchain terkemuka yang berkantor di kota New York, Amerika Serikat, mencatat penipu berhasil mencuri sekira 14 miliar dolar AS dalam aset kripto pada 2021.
Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi kripto tidak hanya soal fluktuasi harga, tetapi juga ancaman kejahatan digital.
Pelaku penipuan biasanya memanfaatkan minimnya literasi masyarakat terhadap teknologi blockchain.
Salah satu cara paling umum ialah membuat situs trading palsu atau tiruan dompet kripto resmi. Domain dibuat mirip dengan platform asli sehingga korban mudah tertipu. Saat pengguna memasukkan kata sandi atau frasa pemulihan, data tersebut langsung dicuri.
Selain itu, terdapat phishing kripto melalui email atau pesan singkat. Korban diarahkan ke laman palsu dan diminta memasukkan kunci privat dompet. Setelah data didapat, saldo kripto korban dipindahkan.
Modus lain adalah skema pump and dump. Token tertentu dipromosikan besar-besaran di media sosial.
Ketika banyak orang membeli dan harga naik, pelaku menjual asetnya sekaligus sehingga harga jatuh dan investor lain mengalami kerugian.
Penipu juga memanfaatkan aplikasi kripto palsu di toko aplikasi, menawarkan investasi dengan klaim dukungan selebritas, hingga menjalankan giveaway kripto yang menjanjikan penggandaan dana.
Selain itu ada penipuan cloud mining dan ICO fiktif yang terlihat profesional lewat situs dan brosur meyakinkan.
Lantas apa ciri-ciri investasi kripto bermasalah?
Chainalysis menyebut adanya sejumlah tanda yang patut dicurigai.
Pertama, janji keuntungan pasti. Tidak ada investasi kripto yang bisa menjamin imbal hasil.
Kedua, proyek tanpa dokumen resmi atau whitepaper yang jelas.
Ketiga, promosi yang terlalu agresif melalui influencer dan iklan masif.
Ciri lainnya adalah identitas tim yang tidak transparan serta iming-iming uang gratis.
Jika sebuah proyek sulit menjelaskan siapa pengelolanya dan bagaimana sistemnya bekerja, sebaiknya investor menahan diri.
“Agar terhindar dari penipuan kripto, investor perlu menjaga kerahasiaan kunci privat dompet digital,” kata tim dari perusahaan tersebut.
Perusahaan itu juga menegaskan untuk tidak pernah membagikannya kepada siapa pun. Saat mencoba aplikasi baru, sebaiknya lakukan transaksi kecil terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya.
Selain itu, hanya berinvestasi pada aset yang benar-benar dipahami. Luangkan waktu untuk riset, membaca whitepaper, serta memeriksa reputasi proyek.
“Hindari keputusan impulsif akibat tekanan waktu atau bonus instan,” tambahnya.
Masyarakat juga harus mewaspadai promosi kripto di media sosial, terutama yang mengatasnamakan tokoh terkenal. Unduh aplikasi hanya dari platform resmi dan periksa ulasan pengguna sebelum menggunakannya.
Lalu, bagaimana jika terlanjur menjadi korban penipuan kripto? Korban segera hubungi bank apabila pembayaran dilakukan lewat kartu atau transfer. Ganti seluruh kata sandi akun digital untuk mencegah penyalahgunaan lanjutan.
Korban juga bisa melaporkan akun penipu ke platform media sosial dan lembaga pengawas terkait. Langkah cepat sangat penting agar kerugian tidak semakin besar.
Di tengah popularitas aset digital, masyarakat diingatkan bahwa kripto bersifat fluktuatif dan berisiko tinggi.
Chainalysis mengingatkan prinsip paling aman adalah tidak menginvestasikan dana yang tidak siap untuk hilang.
















