YOGYAKARTA, fornews.co—Sastra di Yogyakarta hidup menjamur subur. Menulis dan membaca membudaya hingga bangku sekolah. Dapat menulis cerpen sama halnya mendokumentasikan setiap peristiwa.
Workshop Penulisan Cerpen Sastra Liman yang diselenggarakan oleh Majalah Sabana, Rabu 5 Februari 2020, di Rumah Budaya Kadipiro Yogyakarta, menghadirkan sastrawan Mustofa W Hasyim, R Toto Sugiharto dan Budi Sarjono sebagai moderator.
“Menulis cerpen itu banyak manfaatnya. Misalnya, penulis cerpen menjadi mudah mengenal dirinya sendiri,” jelas Mustofa.
Ia mengatakan manfaat menulis cerpen dapat membuat penulis lebih mudah mengenali persoalan hidup yang tengah dihadapi.
Setiap manusia memiliki persoalan dan masalah. Tidak mudah mendapatkan solusinya. Namun dengan menulis semua persoalan dapat diselesaikan.
Terkait manusia mampu menyelesaikan persoalannya dengan menulis cerpen, Mustofa memberikan contoh sebuah persoalan dalam perdebatan atau pertengkaran pada cerpen. Tanpa disadari penulis dengan mudahnya dapat memberikan solusi kepada pihak-pihak yang sedang berselisih.

“Apalagi kalau dalam berdebat atau bertengkar tokoh dalam cerpen itu cukup cerdas dan memakai argumentasi yang kuat,” katanya.
Namun begitu, sebuah cerpen bisa menjadi menarik sekaligus menegangkan. “Tinggal mau penyelesaian yang bagaimana, itu bergantung kepada penulis dalam memanfaatkan kebebasannya.”
Selain itu, sambung Mustofa, sesungguhnya dengan menulis cerpen si penulis telah mengenalkan karakter dan budaya kepada pembaca.
Penulis dapat mengenalkan budaya Minangkabau, Madura, Sunda, Aceh, Bugis, Maluku, Jawa, Batak, dan lainnya melalui cerpen yang ditulis.
Sebagai narasumber workshop penulisan cerpen, Mustofa yang pernah menjadi editor buku sastra dapat mudah mengetahui budaya dan karakter bangsa asing melalui karya-karya cerpennya, misalnya Rusia, Arab, dan Jepang.
Penulis R Toto Sugiharto justru menekankan pentingnya gambar atau foto sebagai penguat daya kreatif dalam cerpen.
Kepada peserta workshop penulisan cerpen, Toto mengatakan, seorang penulis harus berani mencoba dan mencari hal-hal baru untuk tulisanya.
“Jangan terpaku pada teori dan karya cerpen yang sudah ada,” katanya. “Penulis cerpen adalah penemu di dalam dunianya.”
Penulis juga perlu membaca karya cerpen sebanyak-banyaknya.
Menurut Mustofa, karya sastra yang bermutu, termasuk cerpen, cirinya terdapat pada pesan yang sangat mengesankan. Ciri lainnya, tulisannya inspiratif bagi pembaca.
“Cerpen itu seperti hidup di dalam kepala pembacanya,” tutup Mustofa. (adam)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















