JAKARTA, fornews.co – Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) mengembangkan teknologi ban tanpa udara. Ban yang dibuat oleh Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) ini diklaim tidak bisa bocor dan pecah.
Hal ini diketahui setelah sebuah tayangan di kanal YouTube TNI AD mengunggah vidio tentang ban ini, Minggu (02/08).Perwira Teknis 2 Poltekad, Letda Arm Farid Hendro mengungkapkan, pengembangan teknologi ban tanpa udara sangat dibutuhkan oleh militer, khususnya matra darat.
“Pada saat ini mobilitas atau mobilisasi prajurit, khususnya di TNI Angkatan Darat sekarang rata-rata sudah menggunakan kendaraan. Dihadapkan pada kelemahan yang dipunyai ban yang menggunakan angin, itu akan sangat mengganggu mobilitas daripada prajurit yang mengawakinya,” kata Farid.
Hal inilah yang menjadi dasar untuk menciptakan ban ini. “Sehingga pada saat digunakan di medan pertempuran, walaupun itu kena tembakan musuh, masih tetap bisa digunakan,” tambahnya.
Teknologi ban tanpa udara ini diketahui mulai dikembangkan oleh Poltekad TNI AD sejak tahun 2017. Namun saat dilakukan uji coba pertama kali pada tahun itu, hasilnya kurang memuaskan karena minimnya pengalaman dan kurangnya pengetahuan mengenai bahan dan material yang digunakan pada teknologi ini.
Selain itu, pada awal-awal masa pengembangan ban tanpa udara ini, tim riset TNI AD masih terganjal persoalan peralatan yang minim dan hasil yang tidak presisi karena cetakan ban dibuat secara manual. Hal itu mengakibatkan kendaraan tidak stabil dan konstruksi ban pecah.
Seiring waktu, pengembangan teknologi ban tanpa udara ini pun mulai menemui hasilnya. Kini teknologi ban tanpa udara buatan Poltekad TNI AD hasilnya lebih presisi dan sudah melewati berbagai uji coba rintangan.
“Selain bisa melewati berbagai rintangan, ban ini mampu menerima tembakan. Kami sudah melewati pengujian, kita uji di Pindad, dengan menggunakan peluru kaliber 5,56 mm. Diuji dari jarak maksimal 100 meter, setelah ban terkena tembakan, digunakan lagi masih bisa nyaman,” lanjut Farid dalam perbincangannya dengan Kolonel Arm Anang Krisna.
Segera Uji di Jalan Tol
Teknologi ban untuk kendaraan taktis (rantis) ini telah melalui sejumlah uji coba diantaranya melalui medan berbatu, papan yang ditancapkan paku, hingga uji tembakan peluru kaliber 5,56 mm. Selanjutnya ban tanpa udara ini bakal diuji coba di jalanan umum, khususnya jalan tol.
“Yang belum kami lakukan adalah mengujinya di jalanan aspal yang panas. Nantinya kami akan lakukan pengetesan di jalan tol. Tapi yang dites bukan kecepatannya ya. Yang akan diuji adalah durabilitasnya. Kalau ini berhasil, berarti sudah oke,” jelas Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD, Brigjen TNI Nugraha Gumilar, sebagaimana dilansir dari detik.com.
Dia menjelaskan, pengujian akan dilakukan pada kecepatan rata-rata 40-50 km/jam, dengan estimasi waktu selama 2-3 jam. Pengujian ini perlu dilakukan, sebab konstruksi ban tanpa udara berbeda dengan ban konvensional yang memiliki udara. “Nanti kita akan lihat kekuatan dalam menahan panasnya seperti apa. Kalau misalnya bannya kuat, dia pasti akan lebih stabil,” jelasnya.
Nugraha mengatakan, masih perlu waktu sampai dua tahun lagi bagi teknologi ban tanpa udara untuk sampai kepada produksi massal. Pengetesan masih perlu dilakukan berkali-kali supaya ban safety saat digunakan nanti.
“Jadi kami tidak ingin terburu-buru. Kami ingin produk ini bagus dan aman digunakan. Tahun ini kita coba lagi, kalau ada kendala kita perbaiki lagi, supaya ke depannya bisa diproduksi massal,” ujar Nugraha.
Selain itu, Poltekad TNI AD juga perlu mendapat persetujuan dari KSAD (Kepala Staf TNI Angkatan Darat) dan Menhan (Menteri Pertahanan) agar bisa memproduksi ban tanpa udara ini secara massal. Jika dapat restu dari kedua lembaga tersebut, Poltekad Kodiklat TNI AD akan memprioritaskan produksi ban tanpa udara ini untuk kendaraan militer angkatan darat seperti rantis hingga panser ringan seperti Anoa. (rif)
















