YOGYAKARTA, fornews.co—
Memasuki era digital seluruh media massa, penerbitan dan percetakan bersaing keras.
Minat masyarakat terhadap media cetak pun semakin menurun.
Meski masih menjadi langganan bagi pembaca setia.sejumlah lapak jual bacaan (Lajuba) di Yogyakarta bisa dihitung dengan jari.
Lajuba di Pakualaman, misalnya. Hampir semua koran dan majalah nasional ada di sini. Bahkan berbagai majalah dan buku.
Lajuba yang dikelola suami istri bernama Agus dan Sugi itu sudah ada sejak tahun 2000, beberapa tahun setelah reformasi meletus.
Lajuba yang mangkal di Jalan Masjid, di Barat Puro Pakualaman, masih tetap buka dari pagi hingga sore.
“Yang paling sering dicari pembeli, majalah anak-anak dan kumpulan resep memasak,” ungkap Sugi (40), yang kini tinggal bersama suaminya di Purwanggan, Kota Yogyakarta, Senin (22/6/2020).

Awalnya, Agus suami Sugi, hanya menjual beberapa surat kabar cetak terbitan lokal, dan koran yang paling laris dibaca warga Yogyakarta.
Berjalannya waktu, mereka tidak hanya menjual koran cetak, melainkan juga tabloid dan majalah.
“Dulu hampir semua majalah dibeli pembaca,” kata Sugi, kepada fornews.co.
Tapi, sejak telepon seluler pintar menjamur, ujarnya, orang mulai beralih ke internet.
“Sekarang, buku juga di internet,” kata Sugi, seraya menghela nafas.

Sebelum marak ponsel pintar di Yogyakarta, yang paling laris dibeli pembaca adalah tabloid olah raga dan hiburan.
Meski begitu, beberapa koran cetak yang dipajang di lapaknya masih laku terjual.
“Setiap koran hanya menitipkan belasan eksemplar,” aku Sugi.
Tetapi untuk majalah, mereka tidak berani menjual lebih dari lima eksemplar. Kata mereka terlalu berat karena harganya yang mahal dibanding koran.
Koran yang paling laku terjual di lapaknya hanya Tribun dan KR, meski juga memajang Jawa Pos, Suara Merdeka, Republika, Kompas, dan Merapi.
“Paling laris koran Tribun dan KR,” kata Sugi. “Majalah Idea pernah sempat laris di tahun 2000-an.”

Agar kebutuhan keluarga tercukupi, Agus dan Sugi, memilih tetap bertahan di tengah badai digital yang terus berkembang.
“Sayang sudah ada pelanggan tetap. Selain itu, bisa makan dari mana jika tidak berjualan begini,” ujarnya.
Berbagai buku politik hingga sastra juga ada di Lajuba ini. Bahkan majalah sekelas National Geographic, dipajang rapi bersama majalah lainnya.
Dahulu sejumlah lajuba di Yogyakarta dapat ditemui di sekitar Jalan Gayam, RS Bethesda, Baciro dan Jalan Tamsis, namun sekarang sudah tutup.
“Lapak seangkatan suami saya juga sudah gulung tikar,” kata Sugi.

Dari pantauan fornews.co, sejumlah loper koran masih dapat di sebagian ruas jalan di Kota Yogyakarta.
Kebanyakan dari para loper koran hanya menawarkan surat kabar lokal kepada pengendara di lampu merah.
Sementara itu, sebagaian warga Yogyakarta, memilih membaca berita melalui gawai.
“Terbilang tidak sering, tetapi setiap hari membaca berita lewat ponsel,” ujar Rudi, karyawan ayam goreng di seputaran Jakal. (adam)
















