
PALEMBANG-Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Suwarjono mengungkapkan, jurnalis tidak bisa berdiam diri dalam gempuran internet. Konten internet justru dimasuki non jurnalis, penyebar hoax, dan mereka yang hanya untuk bercakap-cakap.
“Ini sebuah ancaman. Jurnalis harus aktif masuk ke dalamnya,” ungkap Suwarjono, dalam Konferta AJI Kota Palembang di aula KONI Sumsel, Sabtu (3/12).
Karenanya, kata dia, AJI Indonesia mendorong informasi digital. Salah satunya membangun media lokal berbasis online dari AJI-AJI kota di Indonesia. Konten adalah raja, kalau menarik pasti dicari orang. Jurnalis harus mendistribukan konten dengan baik. Ini adalah era home media. “Kalau bisa kita bangun media sendiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Korwil Sumatera AJI Indonesia Budi Santoso Budiman, menyoroti dari pelaku media. Dia menyetujui tema yang dibawa panitia Konferta AJI Palembang, yakni Konvergensi Media, Kira Adalah Kantor Berita dan Kita Adalah Jurnalis.
Namun dia mengingatkan, bahwa jurnalis atau pelaku media cukup ketinggalan pada perkembangan informasi di internet. “Jurnalis warga berperan di media sosial,”ulasnya.
Disayangkan, Budi menilai, standar produk jurnalistik dari para jurnalis warga belum ada. Sesuai hasil kongres AJI di Bukit Tinggi lalu disepakati jurnalis warga bisa jadi anggota AJI asalkan memenuhi etik jurnalistik. “Kita mengawal itu, profesionalisme dan etik tidak boleh dilepaskan,” tegasnya. (ibr)
















