PALEMBANG, fornews.co – Untuk mengantisipasi wabah difteri yang sudah menjadi isu nasional, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menganggap sepele soal cakupan imunisasi sebagai cara menangkal penyakit berbahaya itu.
Kadinkes Sumsel, Lesty Nurainy mengatakan, sejauh ini kasus difteri tidak ditemukan di Sumsel. Tiga pasien sebelumnya yang terduga pengidap difteri, 2 orang asal Palembang,1 orang asal OKI dinyatakan negatif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. “Jadi sampai dengan hari ini di Sumsel tidak ada yang kena difteri. Entah kalau besok-besok,” kata Lesty, Kamis (14/12).
Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diphtheriae ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernafasan bagian atas, hidung dan juga kulit.
Penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada 5-10% penderita. “Karena itu kita wajib waspada, jangan lengah, jangan sampai kena difteri. Difteri ini penyakit yang sangat menular, bisa menyerang dari sentuhan kulit, bisa juga dari hidung,” tegas Lesty.
Menurut dia, keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu target persentase minimal 95% dari sasaran (jumlah anak yang harus diimunisasi). Cakupan imunisasi itu meliputi vaksin yang diberikan pada anak yang usianya sesuai anjuran pemerintah. Jenis vaksin itu di antaranya vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, vaksin TD dan lainnya. “Tugas kami mengedukatif masyarakat dan tidak menolak untuk imunisasi,” ungkapnya.
Adapun lanjut Lesty, upaya yang akan mereka lakukan untuk mengantisipasi menyebarnya wabah difteri ini dengan cara mengaktifkan setiap puskesmas di kabupaten/kota di Sumsel untuk membantu mengecek status imunisasi anak. “Masyarakat dan puskesmas harus aktif mengecek status imunisasi. Kalau cakupan imunisasi belum lengkap, segera lengkapilah. Difteri ini bukan saja menyerang anak-anak, tapi juga orang usia 40 tahun,” jelasnya.
Sementara itu, Yusri, staff Dinkes Sumsel menyebutkan, dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, OKU Selatan dan Empat Lawang paling rendah persentase cakupan imunisasinya. “Tapi tidak begitu rendah, masih bisa memproteksi. Tapi harus ditingkatkan lagi. Kalau ada yang kurang imunisasi, lengkapilah untuk menambah kekebalan,” pungkasnya. (bas)

















