
TERIK matahari cukup panas, saat akan memasuki Kampung Al Munawar, Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang ulu (SU) II, pada Sabtu (29/10) siang. Tidak seperti hari-hari biasa, kali ini kawasan yang biasa disebut kampung Arab ini lumayan ramai.
Begitu masuk ke tengah-tengah kampung, sudah berdiri 16 tenda yang telah diisi beragam kemasan-kemasan kopi dari berbagai daerah. Mulai dari Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Muaraenim, Pagaralam dan dari beberapa kedai kopi bermerek asli dari Palembang. Ternyata, hari ini digelar acara Festival Kopi Al Munawar. Gawean Dinas Pariwisata Sumsel ini, dilaksanakan hingga Minggu (30/10) besok.
Namun, dibalik agenda festival tersebut, tidak sedikit pengunjung yang awalnya sempat bingung ketika sudah berada di salah satu kampung sejarah di Kota Palembang tersebut. Karena, pengunjung bukan langsung tertuju pada semua hal berbau kopi. Melainkan, kekaguman pengunjung setelah melihat bangunan rumah-rumah tua yang masih kokoh berdiri dan semua aktivitas warga Kampung Al Munawar yang memang semuanya memiliki keturunan Arab.

Terlebih, kampung ini merupakan akulturasi budaya Melayu, Cina, dan Arab. Mengapa dinamakan Kampung Arab, karena awalnya di sinilah para pedagang-pedagang Arab bermukim. Menurut cerita, keberadaan para keluarga pedagang Arab ini paling tidak sudah ada hampir 300 tahun. Mereka memiliki tanah yang luas, lalu dijadikan pemukiman bagi keluarga dan sanak saudaranya. Tidak heran jika akhirnya masing-masing kawasan ini memiliki nama yang diambil dari nama marga keluarga para pedagang Arab tersebut.
“Saya baru pertama kali ke sini (Kampung Al Munawar), ini pun setelah diajak teman. Awalnya sih, kami ingin melihat bagaimana acara festival kopi ini. Tapi, ternyata di sini orang-orangnya keturanan ayib (Arab) semua, cowoknya ganteng-ganteng. Saya tidak menyangka, masih ada bangunan-bangunan rumah tua yang masih sangat bagus, ini sejarah juga,” ucap Febri, (20), mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di kawasan Plaju, saat dibincangi di lokasi, Sabtu (29/10).
Bukan saja Febri, tapi beberapa pengunjung lain sengaja datang untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Begitu banyak pengunjung yang hobi fotografi, seperti tak pernah berhenti mencari angel dari semua kegiatan warga Kampung Al Munawar. Walaupun, mereka datang untuk menghadiri festival kopi tersebut. Bocah-bocah berdarah Arab, paling dominan menjadi bidikan kamera para fotografer tersebut. Bahkan, ada kumpulan bocah langsung berlari, ketika ada satu fotografer yang akan mengambil gambar mereka.

Menurut Koordinator Lapangan Festival Kopi Al Munawar, Robby Sunata, mengapa festival kopi ini sengaja memilih lokasi Kampung Al Munawar, karena kampung ini sejak dulu orang-orangnya memang pedagang kopi. “Jadi ada keterkaitan dengan sejarah kopi dan kopi Al Munawar. Makanya kita bikin di lokasi ini. Ini acara tahunan Dinas Pariwisata Sumsel, namun tahun ini digelar di tempat ini oleh teman-teman dari komunitas kopi yang dikumpulkan pihak Dinas Pariwisata,” ujarnya.
Robby menuturkan, bahwa target kegiatan ini, Kampung Al Munawar sebagai destinasi wisata Palembang makin dikenal orang. Kemudian, kopi Sumsel makin populer di warga Sumsel sendiri. Jadi, kalau orang datang ke Palembang, tiap kedai-kedainya tidak lagi menawarkan kopi Gayo, kopi Medan, kopi Bali dan kopi dari luar Sumsel lainnya. “Tapi menawarkan kopi Semendo, Lahat, Pagaralam atau Empat Lawang,” tuturnya.

Terkait dipakainya rumah warga yang bisa dilihat langsung oleh pengunjung, Robby menjelaskan, bahwa itu sengaja untuk memperkenalkan masyarakat Palembang dengan sejarah. Kalau pengunjung hanya lewat-lewat dan menikmati kopi, mereka tidak akan tahu bagaimana sejarah dari rumah rumah tua di Kampung Al Munawar ini. Makanya, panitia mengajak pengunjung untuk masuk ke rumah-rumah warga yang sudah ditunjuk, untuk mengadakan acara diskusi dan pemutaran film.
“Ketika pengunjung memasuki rumah tersebut dan bertanya ini rumah apa sih. Nah, dari situlah kita menjelaskan sejarah dari rumah-rumah tua di Al Munawar ini. Ada sekitar tiga rumah yang dibuka untuk masyarakat pengunjung Festival Kopi Al Munawar ini, ada dua rumah yang untuk masuknya sengaja harus bayar Rp1.000. Itu untuk kontribusi pemilik rumah dan untuk membiasakan setiap pengunjung menghargai tempat tersebut. Jangan sampai, datang foto-foto dan pergi. Bahkan ada yang buang sampah juga di rumah itu. Tapi, kalau pengunjung membayar, mereka jadi punya tanggung jawab untuk menjaga,” jelasnya.
Dari tiga rumah wanga Al Munawar yang bisa di masuki pengunjung, salah satunya merupakan rumah si pendiri kampung tersebut, yakni rumah yang dibangun oleh Habib Abdulrahman bin Alkin Muhammad Al Munawar, sekitar 125 tahun yang lalu atau 1206 H. Rumah panggung tersebut, digunakan panitia untuk tempat seminar tentang kopi.
Robby menambahkan, Festival Kopi Al Munawar ini sendiri diikuti 16 peserta, yakni 4 dari dinas dan perkumpulan kopi daerah (Empat Lawang, lahat, Muaraenim dan Pagaralam), sisanya atau 12 peserta lagi dari kedai-kedai dan kopi merek asli di Palembang. Semua peserta bukan dari franchise, tapi benar-benar lokal Palembang. (tul)

















