SEKAYU, fornews.co – Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex memaparkan berbagai inovasi dan terobosan yang dilakukan Pemkab Muba dalam mendorong UMKM di Muba untuk bangkit dan maju.
Hal itu disampaikan Dodi saat menjadi narasumber pada Government Roundtable Series 2 Episode 7 dengan tema “Pemulihan Ekonomi Sumatra Selatan Melalui Kebangkitan UMKM” yang dilaksanakan secara virtual, Senin (16/11).
“Untuk menuju UMKM Muba bangkit dan maju, pertama Muba menciptakan produk-produk ramah lingkungan yang menarik di pasar yaitu produk batik Gambo Muba dan pelepah pinang. Batik Gambo Muba memiliki estetika yang tinggi, karena penggunaan bahan alami dan kerajinan asli tangan pemberdayaan masyarakat terutama para Ibu-ibu rumah tangga yang dapat meningkatkan pendapatan ekonominya, dan produk-produk gambir ini juga sangat ramah lingkungan. Disinilah kita memasukkan UMKM-nya,” ujar Dodi yang mengikuti diskusi dari Ruang Rapat Bupati Muba.
Dodi menerangkan, Gambo Muba adalah tekstil khas metode jumputan, diwarnai dengan dicelup getah gambir yang awalnya dianggap limbah dan dibuang percuma kini jadi produk eco fashion yang sangat diminati di dunia.
“Selanjutnya, produk pelepah pinang yang dikelola menjadi wadah makanan pengganti styrofoam dan plastik. Pelepah pinang ini juga menjadi program kita untuk pemberdayaan masyarakat dan inovasi produk ramah lingkungan ini juga terus kita fokuskan pengembangan pengelolaan pelepah pinang,” terangnya.
Dodi juga memaparkan eco wisata, local culture dan sport tourism dalam membangkitkan UMKM di Muba, di antaranya eco wisata Danau Ulak Lia, festival Bongen (tradisi pantai dadakan akibat surutnya debit air sungai Musi).
“Festival bekarang, agenda tahunan tradisi masyarakat Musi Banyuasin mencari ikan saat danau dan sungai mengering. Kita juga menyelenggarakan Muba Auto Gymkhana di Skyland Sirkuit serta Festival Randik yang merupakan agenda tahunan penampilan aneka budaya tradisi seperti tarian seni, stabek dan senjang, yang jelas dapat membangkitkan UMKM di Muba,” tuturnya.
Selain itu, Dodi juga menyampaikan terobosan dalam pengolahan kelapa sawit menjadi bensin atau bahan bakar nabati (BBN) Biofuel yang sudah dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin. Kemudian ada juga paparan terkait aspal karet yang dihasilkan dari lateks pekat hasil proses pemisahan partikel cair dan padat (centrifuge) berbahan baku bokar. Dikatakannya, bukan hanya pasar yang bisa jadi unggulan namun lateks pekat tersebut dipastikan mampu meningkatkan ekonomi petani karet.
“Ada empat keuntungan yang bisa bermanfaat bagi petani dan kontraktor bahkan negara atas hilirisasi di sektor komoditi karet ini,” katanya.
Dodi juga menguraikan, empat manfaat dimaksud, yaitu keuntungan pertama aspek ekonomi rakyat. Hadirnya pabrik aspal karet ini meningkatkan nilai jual petani hingga dua kali lipat atau bisa Rp20.000 per kilogram. Di mana saat ini melalui instalasi pengolahan aspal karet yang dimiliki mampu menampung 3-4 ton lateks dan akan ditambah dua instalasi pada 2021 dengan target produksi lateks mencapai 15 ton per hari.
Keuntungan kedua dari sisi teknis. Menurutnya, walau secara harga aspal karet lateks ini harganya lebih mahal tapi umur dan ketahanannya dua kali lebih panjang karena mengandung karet jadi lebih lentur. Kemudian tahan air atau kedap air.
Keuntungan ketiga sambung Dodi, dari sisi bisnis. Sedangkan keuntungan keempat adalah dari sisi regulasi pengadaan bahan baku lateks dari petani.
“Di Musi Banyuasin, intinya adalah ingin menjadikan UMKM berdaya saat pandemi apalagi di masa New Normal ekonomi baru seluruh paradigma baru dan UMKM lebih adaptif juga berkembang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (ije)
















