
SEKAYU, fornews.co- Ketua Pelaksana Kejuaraan Sirkuit Bridge Pelajar Sumsel 2017 Aziz Azwar SE menerangkan, animo atlet muda bridge pada even yang baru kali pertama digelar di Sumsel ini cukup besar.
Karena, pesertanya bukan saja dari wilayah Banyuasin, melainkan datang dariMusi Rawas (Mura), Lubuklinggau, Muba, danPalembang. “Target yang ingin dicapai pada even ini, yakni mencari atlet yang berbakat menjelang Porprov 2017. Kemudian, sebagai wadah yang tepat untuk mengasah keterampilan serta mengembangkan minat dan bakat di kalangan pelajar,” terangnya.
Aziz menjelaskan, memang masih ada masyarakat yang sering menginterprestasikan bridge, lantaran sarana kartu tersebut identik dengan permainan judi. Selain itu, dari kalangan pecinta olahraga pun sering timbul anggapan, bahwa Bridge tak lebih dari sekedar permainan, bukan olahraga.
“Bahkan, para siswa yang awalnya menjadi target bibit pemain Bridge handal, kadang menganggap olahraga ini terkesan kuno dan hanya pantas dimainkan bagi kaum orang tua. Anggapan subyektif lainnya datang dari kalangan pendidik yang menyatakan olahraga ini sama sekali tidak mendidik. Semua itu, terakumulasi dan merupakan beban besar bagi insan bridge untuk mensosialisasi olahraga ini di Sumatra Selatan khususnya di Kabupaten Banyuasin,” jelasnya.
Padahal, urai Aziz, bridge adalah olahraga unik dan menarik, serta cenderung mengandalkan akal sehat dan manajemen berpikir. Turnamen Bridge biasanya diatur untuk memaksimalkan penggunaan skill satu tim dan implementasi beberapa disiplin ilmu. Diantaranya matematika, manejemen, sosial dan psikologi.
“Bridge merupakan olahraga sekaligus permainan yang sangat menarik. Seseorang harus mampu berpikir dan memutuskan tindakannya dengan cepat. la juga harus akurat dan tepat dalam mengatur dan mengubah strategi dalam waktu yang relatif singkat. Alhasil, seorang pemain Bridge yang handal diharapkan mampu mengelola sebuah permainan, baik secara individu maupun tim,” urainya.
“Hal yang tak kalah pentingnya ini adalah kegiatan yang positif bagi kalangan pelajar agar dapat memfilter hal-hal negatif yang dapat merusak mental anak bangsa seperti kenakalan remaja,sek bebas, dan penyalahgunaan obat obat terlarang” tandasnya. (cak)

















