PALEMBANG, fornews.co – Laboratorium pemeriksaan COVID-19 kembali normal di awal pekan, jumlah spesimen yang diperiksa pun kembali meningkat.
Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dr Achmad Yurianto menerangkan, update COVID-19 secara nasional Selasa 23 Juni 2020 hingga pukul 12.00 WIB terdapat 17.908 spesimen yang diperiksa. Sehingga total akumulatif spesimen yang diperiksa 666.219.
“Dari pemeriksaan ini kita dapatkan konfirmasi kasus positif sebanyak 1.051 orang sehingga total 47.896,” ujar Yuri pada konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Selasa (23/06).
Menurut Yuri, melihat sebaran penambahan kasus positif baru, ada lima provinsi yang melaporkan kenaikan kasus yang cukup signifikan yaitu Jawa Timur 258, DKI Jakarta 160, Sulawesi Selatan 154, Sumatra Utara 117, Papua 55.
Dari 34 provinsi terdampak ada 18 provinsi yang melaporkan penambahan kasus baru di bawah 10. Bahkan ada 8 provinsi yang melaporkan tidak ada penambahan kasus baru yaitu Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Papua Barat, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, lanjut Yuri, ada beberapa provinsi yang melaporkan kasus sembuh lebih banyak dari kasus positif baru. Di antaranya Jawa Tengah hari ini melaporkan 49 kasus baru dan 50 sembuh, Kalimantan Selatan 27 kasus baru dan 28 sembuh, Sumatra Selatan 16 kasus baru dan 47 sembuh, Banten 9 kasus baru dan 13 sembuh, Sumatra Barat 5 kasus baru dan 20 sembuh, Jambi 2 kasus baru dan 20 sembuh, Maluku 1 kasus baru dan 4 sembuh, dan Bangka Belitung tidak melaporkan kasus baru dan 10 sembuh.
“Sehingga total kasus sembuh hari ini 506 orang sehingga akumulasi sembuh 19.241 orang. Sementara itu ada juga penambahan kasus meninggal 35 orang sehingga total 2.535,” katanya.
Saat ini ada 442 kabupaten/kota terdampak di 34 provinsi. Sementara orang yang dipantau sebanyak 35.983 dan pasien yang dalam pengawasan ketat 13.348 orang.
Yuri menerangkan, kasus yang didapatkan hari ini sebagian besar hasil contact tracing yang dilakukan secara agresif disertai pemeriksaan lebih masif pada kasus-kasus yang ditemukan. Ini menjadi penting terutama untuk daerah-daerah yang masih menunjukkan penambahan cukup tinggi atau rata-rata kasus per 100.000 jumlah penduduk masih tinggi akan terus dilakukan contact tracing agresif dan dilanjutkan dengan pemeriksaan yang masif.
“Kembali kami ingatkan, menjaga jarak adalah kunci. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah terkait pembatasan kapasitas kendaraan umum ini yang menjadi latar belakang agar menjaga jarak masih bisa kita terapkan. Mari patuhi menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan untuk memutus penularan COVID-19,” tukasnya. (ije)


















