
PALEMBANG-Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Palembang Hamid Ponco Wibowo memaparkan, inflasi Sumsel pada November 2016 mencapai 4,14% (year on year/yoy) atau lebih rendah dibanding Oktober 2016 sebesar 4,22% (yoy).
Namun, secara bulanan pada November 2016 Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,56% (mounth to mounth/mtm) meningkat dibanding Oktober yang mengalami deflasi sebesar 0,04% (mtm) dan realisasi inflasi November 2016 lebih rendah dibanding tahun lalu yang inflasi sebesar 0,64% (mtm). “Berbagai upaya pengendalian terus kita lakukan di tahun 2016 ini, agar inflasi mendekati target nasional,” paparnya, pada rapat rutin bulanan TPID Sumsel di Hotel Arista Palembang, Rabu (28/12).
Hamid menerangkan, secara kumulatif Sumsel mengalami inflasi sebesar 2,95 % (year to day/ytd) atau berada diperingkat ke-3 terendah diantara 10 provinsi di wilayah Sumatera, dan lebih tinggi dari inflasi kumulatif nasional (2,59%,ytd). Secara bulanan, Kota Palembang menempati urutan ke-11 terendah, sedangkan Kota Lubuklinggau berada di urutan ke-8 terendah.
“Berdasarkan survei pemantauan harga Bank Indonesia Minggu ke-III bulan Desember 2016, risiko inflasi Desember ini diperkirakan Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,26% (mtm), 3,26 % (ytd), dan 3,26%(yoy),” terangnya.
Hamid Ponco Wibowo melanjutkan, pada tahun ini Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel telah melakukan rangkaian kegiatan pengendalian inflasi. Mulai dari rapat TPID awal tahun; penyususnan Roadmap; Capacity Building; Roadshow ke TPID Kabupaten/Kota; mengadakan kegiatan pasar murah; pengembangan iklan layanan masyarakat; operasi pasar; warung sembako TPID; pasar penyeimbang; toko tani; pengembangan pusat Informasi harga pangan strategis (PIHPS); serta kegiatan evaluasi secara rutin.
Bahkan, belum lama ini TPID Sumsel melakukan kunjungan ke pelaku usaha olahan karet di Jambi, untuk memberi penularan kepada para petani karet Sumsel dalam pengelolaan karet. “Berbagai prestasi juga sudah di raih TPID Sumsel diantaranya menjadi nominasi TPID terbaik di Sumatera tahun 2015 dan berhasil meredam tekanan inflasi bulan Juli 2016 dengan serangkaian kegiatan pengendalian,” tukasnya.
Sementara, Plt Sekda Sumsel Joko Imam Sentosa, bahwa TPID memiliki peran sangat strategis sebagai tolak ukur sebuah wilayah, dalam mengukur kondisi perekonomian sebuah wilayah khususnya melalui inflasi. Untuk itu, melalui rapat koordinasi ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian inflasi Sumsel.
“Tahun 2016 ini merupakan tahun strategis karna pembangunan besar-besaran berlangsung di Sumsel. Untuk evaluasi yang dibahas hari ini adalah bagaimana untuk memperkuat pengendalian inflasi di tahun 2017 mendatang diantaranyan memasukkan Dinas Koperasi Sumsel ke dalam TPID Sumsel,” tandasnya. (tul)

















