PALEMBANG, fornews.co – Masih ingat impian Wali Kota Palembang periode 2003 -2013, Eddy Santana Putra, beberapa tahun lalu, yang punya keinginan untuk menjadikan Palembang layaknya seperti Venezia, kota air nan romantis di Italia.
Impian tersebut didengungkan Eddy Santana, lantaran Palembang memiliki banyak anak sungai yang membelah wilayah kota pempek ini. Seiring perjalanan dan perubahan pimpinan, impian tersebut menguap. Kota Palembang tetaplah menjadi kota seperti kebanyakan kota lain. Untuk mewujudkan impian tersebut, butuh banyak hal teknis dan non teknis.
Nah, lepas dari dari impian tersebut, masalah yang menjadi pertanyaan publik Palembang adalah belum adanya solusi ketika datang hujan yang cukup panjang dan menyebabkan terjadinya banjir, lantaran induk dari muara sungai, yakni Sungai Musi sudah tak mampu lagi menampung tumpahan air tersebut, hingga menumpahi jalan dan perumahan warga.
Satu bulan ini, Kota Palembang terus diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Terakhir, Senin (12/11) malam, hujan yang turun sekitar pukul 21.00WIB hingga tengah malam, membuat sejumlah besar titik-titik di Kota Palembang terendam banjir.
Wilayah-wilayah yang tergenang air saat hujan deras tersebut, di Jalan Kol H Burlian (depan pool Lorena, depan kantor Sumek dan di KM 6). Kemudian di Jalan Jenderal Sudirman (Simpang Polda), Jalan Demang Lebar Daun (depan SD Izzudin, depan RS Siti Khodijah), sebagian Jalan Veteran, Jalan Angkatan 45, Jalan Rajawali, Jalan Bangau, Jalan M Isa, Jalan Pipareja, Jalan Sersan KKO Badaruddin (SMAN 5), Jalan Letnan Mukin, Jalan Simanjuntak (belakang Taman Makan Pahlawan), pemukiman warga di belakang UIN. Wilayah Sekojo Ajendam, kawasan kompleks Polygon, sebagian Kenten Sako, Jalan Kebun Bunga, Jalan Soekarno Hatta, sebagian wilayah Sekip dan masih banyak lagi.
Bisa ditebak, begitu banyak keluhan yang dimunculkan masyarakat melalui media sosial (medsos), terlebih di facebook. Beragam keluhan tersebut, mereka melaporkan terkait bagaimana kondisi rumah, perkantoran, jalan raya yang terendam air pascahujan.
“Saya kira setelah hujan tadi malam, pagi ini air yang menggenangi jalan ini akan surut, ternyata masih terendam. Saya juga bingung, apa yang salah disini,” keluh Fadil, warga Sako yang terjebak banjir di kawasan Jalan Bangau, saat akan pergi ke kantor, Selasa (13/11) pagi.
Tentang impian menjadi Kota Venezia, Rusandy, 38, warga Jalan Merdeka, mengungkapkan, memang pada masa Wali Kota Palembang sebelumnya, yakni Eddy Santana Putra mendambakan Palembang ini menjadi kota wisata air.
“Mungkin impian Pak Eddy Santana terwujud sekarang. Palembang benar-benar menjadi kota air. Semua terendam. Entahlah, kami sebagai warga hanya bisa berkeluh kesah, biarlah pemerintah yang kami harapkan bisa menghadirkan solusi,” keluhnya, saat dibincangi fornews.co, Selasa (13/11).

Warga Palembang lainnya, Bagindo Togar mengatakan, sebenarnya warga sudah lelah berteriak di beragam media. Buruknya sistem drainase, minim dan tidak merata juga. Kemudian kurang tertatanya ruang publik terbuka hijau, menjadi penyebab akan berulang ulang terjadinya banjir. “Apalagi, terbayang gak nasib kota kito ini bila tanpa Sungai Musi beserta cabang cabangnya?,” katanya.
Bagindo menilai, bisa jadi beberapa faktor penyebab banjir Kota Palembang ini, karena sistem drainase yang sangat buruk; perangkat pompa yang tak terawat dan akhirnya rusak tak berfungsi; minim lahan atau lokasi resistensi air; pengangkutan dan pengelolaan sampah yang masih konvensional; minim, kurang tertata dan kurang meratanya ruang terbuka hijau.
“Harus ada gerakan massif kampanye sadar berperilaku hidup bersih, penegakkan sanksi tanpa kompromi yang merusak tata ruang dan kebersihan kota. Berikutnya, melakukan evaluasi dan kajian tentang penataan (khususnya terkait masalah banjir) secara berkala, minimal dua kali setahun,” tandasnya.
Berdasarkan informasi dari Badan SAR Nasional (Basarnas) Palembang, pascahujan tersebut, mereka melakukan evakuasi korban banjir diperumahan Bandara Residence Kebun Bunga, Selasa (13/11). Di wilayah tersebut, ketinggian air mencapai 0,5 hingga 1 meter sekitar 60 KK terdampak banjir.
Kemudian, melakukan evakuasi banjir di daerah Seduduk Putih Lorong Rawa 1 Kelurahan 8 ilir, Kecamatan Ilir Timur II. Warga atas nama Wayan Mbun (64), yang mengalami sakit berhasil dievakuasi dari rumahnya dan dibawa ke Rumah Sakit Hermina untuk diberikan pengobatan. Ketinggian air berkisar 0,5 hingga 1 meter warga yang terdampak banjir sekitar 200 KK.
Selanjutnya, melakukan evakuasi banjir di Kelurahan Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning. Kawasan ini Ketinggian air sekitar 1 hingga 1,5 meter dan jumlah warga yang terdampak banjir sekitar 300 KK. (tul)

















