PALEMBANG, fornews.co – Permintaan pendistribusian 720.477 keping blanko e-KTP tahun 2017 untuk kabupaten/kota se Sumsel belum terpenuhi. Itu berdasarkan data dari Disdukcapil Sumsel yang belum menerima data selengkapnya dari 17 kabupaten/kota hingga akhir tahun.
Kepala Bidang Fasilitasi Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumsel, Reinhard Nainggolan mengungkapkan, dari 720.477 keping yang dibutuhkan oleh 17 kabupaten/kota itu, baru 468.500 keping yang termonitor oleh mereka.
“Hanya 468.500 yang tercover, termonitor oleh kami (Disdukcapil) per 8 Desember 2017 lalu. Dari 468.500 keping itu, 48.500 keping didistribusikan melalui Disdukcapil ke kabupaten/kota, selebihnya kabupaten/kota langsung ngambil sendiri ke pusat,” ujar pria yang akrab disapa Ucok itu, di ruang kerjanya, Kamis (04/01).
Reinhard mengaku belum mengetahui secara pasti apakah jumlah permintaan itu telah terpenuhi, bertambah atau tidak saat ini. Karena pihak kabupaten/kota belum melapor ke Disdukcapil Sumsel setelah ada kebijakan Ditjen Dukcapil, bahwa kabupaten/kota boleh mengambil langsung blanko ke pusat tanpa melalui Disdukcapil provinsi.
“Alasan dari ditjen karena urgen, untuk mempercepat (perekaman). Mungkin skala priotitas daerah yang mau pilkada. Jadi sekarang kami belum menerima laporan dari kabupaten/kota, apakah bertambah atau tidak, tapi kemungkinan bertambah,” tuturnya.
Dengan kebijakan ini, lanjut Reinhard, pihaknya tidak bisa mencover sepenuhnya berapa jumlah blanko yang sudah didistribusikan ke daerah, karena belum ada laporan masuk dari kabupaten/kota.
“Inilah kelemahan kabupaten/kota, tidak cepat melapor berapa jumlah blanko yang telah diambil. Kalo cepat dilaporkan, kami bisa mengupdate jumlahnya. Kami harapkan semua pihak dapat bersinergi dalam hal ini, nanti kabupaten/kota akan kami surati untuk meminta data,” katanya.
Di sisi lain, Reinhard mengatakan, hingga 28 Desember 2017, baru sekitar 93% perekaman e-KTP.
“Di Sumsel ini ada 5. 885.623 yang wajib KTP. Kalau target pencapaian tidak bisa 100%, karena setiap harinya itu ada saja perubahan data. Kita maunya cepat, tapi ada saja kendala, misalnya koneksi bermasalah, atau alat rusak. Inilah yang jadi penghambat,” pungkasnya. (bas)

















