PALEMBANG, Fornews.co – Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) dan Teater Teriax mengambil langkah untuk berkarya kembali tahun ini dengan menampilkan naskah ‘Dunia Serasa Milik Berdua’ di Graha Budaya Jakabaring, Sabtu dan Minggu (27-28) Februari 2021. Siapa sangka, pentas teater pertama di masa pandemi tersebut disambut antusias penonton.
Antusias luar biasa tersebut terlihat dari kursi penonton. Di saat pandemi ini, jumlah kursi di dalam Graha Budaya Jakabaring memang telah diberi jarak, tapi semua terisi penuh. Bahkan panitia terpaksa menolak penonton yang ingin menyaksikan karena jumlah kursi sudah tidak ada lagi.
“Ini sudah jadi aturan sesuai arahan dari DKSS dan Taman Budaya Sriwijaya. Kalau kursi sudah penuh maka tidak menerima penonton lagi,” ujar Bayu Widya Pratama utusan DKSS yang mengawasi panitia melaksanakan tugasnya.
Besarnya antuasias penonton atas gelaran pentas teater ini juga diamini seniman teater asal Sumsel, Connie C Sema. Ia mengaku salut dan kagum atas bertahannya penonton sampai pentas berakhir. Menurutnya, hal itu membuktikan kalau masyarakat, khususnya penonton teater, sudah sangat kangen menyaksikan pementasan teater secara langsung seperti ini. “Semoga ke depan bisa terus diadakan,” kata Connie.
Kegiatan yang didukung penuh oleh Taman Budaya Sriwijaya dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Dengan harga tiket Rp17.500/perorang, setiap penonton harus melalui serangkaian proses sebelum bisa masuk ke gedung pertunjukan.
Setiap penonton sebelum masuk harus cuci tangan, diukur suhu tubuh, memakai masker, membeli tiket dengan cara memesan dulu, dan mengisi data. Semua dilakukan demi kelancaran acara sekaligus menghindari penyebaran Covid 19 di masa sekarang ini.
Ketua Dewan Kesenian Sumsel Syahril Erwin menyatakan, sebagai pentas pertama, pihaknya tidak ingin kegiatan ini menjadi yang terakhir. Karena itu prosedur perizinan dan protokol kesehatan dilaksanakan ketat. DKSS sendiri tidak ingin kegiatan ini memperoleh catatan yang tidak baik dari masyarakat maupun instansi yang terkait dalam penanganan pandemi Covid 19.
“DKSS siap berkerja sama dengan pihak mana pun dalam bidang kesenian. Tentunya harus dengan aturan yang jelas dan disepakati. Kita jangan jadi hilang semangat karena pandemi. Terus berkarya dengan menyesuaikan kondisi dan aturan saat ini,” imbuh Syahril.
Naskah “Dunia Serasa Milik Berdua” merupakan karya Muhammad Yunus yang juga menyutradarai pentas. Naskahnya bercerita tentang konflik dan kehidupan di dunia remaja. Adegan pelajar di sekolah dengan segala dinamikanya ditampilkan dengan apik oleh para pemain. Konflik pun mulai muncul saat sebuah teknologi membuat mereka mengambil sebuah keputusan. Adegan komedi, cinta, sosial, hingga misteri pun mengalir dari para pemain yang tampil yang rata-rata berusia muda.
“Sebenarnya pentas ini sudah disiapkan sejak Februari tahun lalu. Tapi karena ada masa pandemi maka mengalami penundaan, hingga akhirnya bisa terlaksana sekarang,” kata Yunus.
Melibatkan sekitar 25 pemain, dikatakan Yunus jelas sangat sulit dalam penggarapan. Apalagi harus ditambah mengurusi perizinan pementasan di masa pandemi. “Beruntungnya kami masih banyak pihak yang mendukung hingga kegiatan ini bisa terwujud,” ujar Yunus. (yas)

















