Oleh: Ibrahim Arsyad
Hutan Pelawan, merupakan hutan rawa di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang diproyeksikan menjadi Kebun Raya Bangka (KRB), untuk memperbaiki infrastruktur (konservasi) dan menjaganya dari ancaman.
Kata Pelawan sendiri diambil dari pohon dengan nama latin Tristaniopsis merguensis Griff yang batangnya berwarna merah ini, merupakan salah satu spesies dari famili Myrtaceae, yang banyak ditemui di kawasan tersebut, di mana oleh masyarakat Pulau Bangka, dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan pembuat kapal, ajir perkebunan lada, dan kayu api.
Menurut pengelola hutan, Abdurrahman, yang menonjol dari kawasan tersebut selain pohonnya yang diklaim tumbuh didaratan Pulau Bangka dan Sumsel (butuh penelitian), bahwa dari kawasan ini juga menjadi habitat bagi lebah madu liar (Apis Dorsata) yang memiliki cita rasa pahit.
“Rasa pahit itu sendiri karena lebah menghisap sari bungan pohon Pelawan. Dari sinilah, kanapa madunya juga dikenal dengan sebutan madu pelawan,” tuturnya, yang ditemui di camping ground kawasan Hutan Pelawan, Minggu (23/12) lalu.

Bukan hanya sebagai penghasil madu dan jamur Pelawan, di areal hutan lindung yang meliki luasan mencapai 200 hektar lebih tersebut, kini populer sebagai kawasan wisata alam.
Abdurrahman juga menjelaskan, menjaga alam (hutan Pelawan) ini bukan hanya menjaga ekosistem di hutan. Juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, melalui pemanenan madu dan juga jamur yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Di aspek lain, bahwa banyak spesies burung dan satwa liar lainnya hidup di hutan Pelawan. Adapun burung yang berpindah ke hutan ini, karena habitatnya yang rusak akibat aktivitas manusia. Inilah salah satu alasan mengapa Hutan Pelawan diproyeksikan menjadi Kebun Raya Bangka (KRB), dengan sebelumnya memperbaiki infrastruktur terutama untuk tujuan konservasi dan penelitian.
“Di sini juga menjadi pusat penelitian dari sejumlah perguruan tinggi di pulau Jawa. Beberapa minggu lalu mereka (mahasiswa dari Jawa) baru selesai melakukan penelitian di kawasan ini,” kata pria parubaya ini.
Ekowisata

Kawasan hutan lindung Pelawan ini, dirintis menjadi tempat rekreasi pada 2008. Mulai tersentuh anggaran pemerintah sejak 2013-2016. Seiring dengan itu, kawasan hutan lindung ini pun menjadi destinasi wisata alam (ekowisata) yang ditawarkan dari pulau penghasil timah tersebut.
Secara infrastruktur, hutan lindung yang juga menjadi tujuan wisata ini sudah cukup baik. Pengunjung dimanjakan dengan jalan setapak berpaving. Namun sayang, untuk jembatannya yang menjadi lokasi favorit pengunjung kondisinya rusak. Dari Kota Pangkalpinang, untuk menuju Hutan Pelawan dapat ditempuh satu hingga satu setengah jam dengan kendaraan bermotor.
Begitu melewati gerbang menuju hutan lindung, pengunjung akan disuguhkan pemandangan indah serta suasana dana dan nuansa kesejukan alami yang tidak akan dijumpai di kota-kota besar dari sesaknya gedung pencakar langit dan folusi udara sisa pembakaran mesin (kendaraan bermotor).
“Sebenarnya hutan ini baru beberapa tahun ini mendapat perhatian pemerintah daerah. Hutan ini sebelumnya digagas oleh seorang Kepala Desa Namang. Awal perintisan, kepala desa tersebut dianggap (gila) oleh warganya,” kata Berliyanto, jurnalis Pangkalpinang. Dirinya mengaku, mengikuti aksi Kades dalam membuka kawasan tersebut dalam kerja jurnalistiknya.
Diakuinya, hutan Pelawan memang harus dijaga dari ancaman oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang hanya dapat menimbulkan kerusakan. Bangka sendiri memiliki persoalan besar akan kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang timah.
“Setidaknya, kepedulian untuk menjaga hutan dari ancaman dapat diwujudkan melalui konsep wisata alam dari hutan pelawan,” ucapnya, seraya berharap agar pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk pelestarian lingkungan harus dengan maksimal, bukan sekedar pencitraan dan panggung meraih penghargaan.
Terkait intensitas pengunjung Abdurrahman mengaku, dibandingkan wisatawan umum, objek wisata Hutan Pelawan, lebih kerap dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa di Kepulauan Bangka. Selain kegiatan berkemah, juga menjadi pembelajaran menjaga dan melestarikan hutan.
Ia berharap, kunjungan baik dari wisatawa umum maupun pelajar ke Hutan Pelawan dapat menimbulkan kesadaran untuk menjaga alam sekitar. Alam merupakan anugerah yang harus dijaga dan dipelihara sebagai warisan bagi generasi mendatang. (*)

















