PALEMBANG, fornews.co – Pimpinan Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, memandang perlu untuk melakukan dakwah kreatif untuk lebih membesarkan perserikatan. Sebagai lembaga yang menaungi seni, LSBO di tahun ini akan menguatkan dakwah melalui media seni.
Atas dasar itu, LSBO PP Muhammdiyah, memproduksi film perdananya berjudul “Meniti 20 Hari”. Film ini terinspirasi dari perjuangan dan petualangan KH Abdul Razak Fachrudin (muda), dengan rombongan Pandu Hizbul Wathan (HW) pada tahun 1939 Masehi bersepeda dari Ulak Paceh, Musi Banyuasin (waktu masih wilayah Palembang) ke Medan, sejauh 1.300 km untuk mengikuti Kongres ke 28 di Medan. Abdul Razak Fachruddin, merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode (1968-1990).
Imron Supriadi, penanggung jawab pemutara “Meniti 20 Hari” di Sumsel, menuturkan, film tersebut baru akan diputar di lokasi pengambilan filmnya (Sumsel) pada 1-10 Desember 2017 mendatang. Pemutaran sendiri, bukan di bioskop, melainkan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi (PT) Muhammadiyah di Palembang.
“Selain di Palembang, film “Meniti 20 Hari” ini juga akan di putar di daerah asal KH AR Fakhrudin dan menjadi lokasi suting, yakni di Ulak Pace, Muba. Serta di Kabupaten OKI,” ujarnya saat konfrensi pers di Kopi Hitam Manajemen, Sabtu (11/11) malam.
Imron menjelaskan, pemeran tokoh film ini sendiri terdiri dari 90% kader serikat Muhammdiyah yang 100% warga Sumsel. Pemeran utamanya yakni, Jaid Saidi sebagai Mang Jay (tokoh Desa Ulak Pacek, Muba), dan Andre pemeran KH AR Fakhrudin muda. Kemudian Suaebatul Aslamiah, Reaga, Oki Paramadina, M Amin, Imron S, Darwin S, Bagus, Restu, dan Alzaref Dwi Tasuka.
“Film ini sendiri, sudah diputar perdana di Yogyakarta. Kenapa di Yogya, mengingat histori bersirinya Muhammdiyah. Di sini kita juga menyampaikan ke dunia luar, bahwa tokoh asal Sumsel, dalam film ini memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan Muhammdiyah di pulau Sumatera, bahkan Indonesia,” ucapnya.
Dalam rilis LSBO PP Muhammadiyah, dijelaskan bahwa Muhammadiyah modern sudah membuktikan dengan gemilang dakwah di bidang pendidikan. Selain sekolah-sekolah dan Universitas-universitas yang terus berkembang, forum-forum ilmiah bagi keagamaan atau bidang lain secara konsisten terus diadakan dan memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi pengetahuan.
“Melihat perkembangan yang terjadi saat ini generasi muda kita sangat menggemari kegiatan menonton film. Kita lihat bioskop jaringan sangat ramai dikunjungi oleh generasi muda kita. Demikian juga dengan aplikasi Youtube di Handphone kita. Kita bisa menyaksikan anak-anak kita, bahkan dari usia balita, bisa asyik menyaksikan film. Sayangnya film yang ada saat ini dikuasai kapitalis yang berkiblat kepada Hollywood,” ujar Ketua LSBO PP Muhammadiyah Drs Syukriyanto, AR MHum.
Film yang datang dengan derasnya membawa serta kebudayaan mereka yang menggerus nilai-nilai luhur dan mulia yang sudah dengan kerja keras berhasil ditanamkan oleh para pendahulu. Sopan santun, tepo seliro, setia kawan, hidup sederhana adalah contoh dari nilai-nilai yang sekarang menjauh dari anak-anak generasi bangsa.
“Ketika kita belajar dari sejarah, pada masanya salah satu dari Walisongo atau Sembilan Wali yaitu Sunan Kalijogo sukses berdakwah dengan seni. Yaitu seni pewayangan yang di dalamnya termaktub gamelan, tembang, tarian, dan memuncak di acara sekaten (Syahadat ‘Ain). Islam dapat masuk ke masyarakat Jawa dengan sangat halus tanpa terasa dan tanpa kekerasan dengan jalan seni ini,” terangnya.
Setelah suksek memproduksi film “Meniti 20 Hari” tersebut, LSBO PP Muhammadiyah membuat program untuk membuat film yang berisi sejarah Kemuhammadiyahan lainnya. Film-film yang diprogramkan untuk dibuat antara lain: Soedirman (Fokus pada saat Beliau di HW dan menjadi Panglima Besar); 3 Pendekar (Sejarah berdirinya Tapak Suci); Ir Djuanda; Fatmawati (dari Bengkulu untuk Indonesia); 7 Putri Sejati (Sejarah berdirinya Aisyiyah dan NA); Ir Soekarno (dari perspektif Muhammadiyah); Angkringan Matahari (sumbangsih Asyiyah Surabaya untuk mengetas kemiskinan); dll.
Diuraikan juga, KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammdiyah) mempunyai cita-cita luhur melaksanakan pembaruan Islam di Bumi Nusantara, yang kemudian mengejawantah menjadi Organisasi Muhamadiyah tercinta ini. Dalam kurun waktu yang lebih dari 1 abad, Muhammadiyah telah berhasil melakukan pembaruan keislaman di Indonesia.
Secara fisik terlihat sumbangsih Muhammadiyah untuk Indonesia, dalam bentuk puluhan ribu sekolah dan pesantren. Muhammadiyah menjadi salah satu pilar penting dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Para pendahulu kita sudah berhasil berdakwah di jamannya. Dengan pelan dan pasti Muhammadiyah berkembang dan terus berkembang. Saat ini, kita mewarisi Muhammadiyah yang sudah sedemikian besar hingga menjangkau daerah-daerah terujung Indonesia,” tandasnya. (ibr)

















