PANGKALAN BALAI, fornews.co – Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG)
Republik Indonesia, Myrna Safitri mengatakan, ada beberapa pendekatan yang dilakukan pemerintah dalam melaksanakan restorasi gambut berkelanjutan.
Pertama, ada fasilitator yang akan ditempatkan di daerah-daerah yang terdapat lahan gambut dan tinggal bersama masyarakat selama 10 bulan untuk memberikan edukasi tentang karhutla.
Kemudian, melakukan pelatihan-pelatihan kepada guru SD dan memberikan alat peraga di desa-desa peduli gambut agar pembelajaran ekosistem gambut terintegrasi dengan beberapa mata pelajaran.
Selanjutnya, dengan melibatkan para tokoh – tokoh agama, agar dalam penyampaian pesan-pesan keagamaan memeberikan edukasi tentang pentingnya menjaga alam dari ulah tangan – tangan jahat manusia.
“Ada fasilitator setiap tahun mengajarkan tentang kesadaran karhutla dan terus mengajak mesyarakat untuk memelihara gambut, dan kita juga mengajak tokoh agama untuk menyampaikan tentang pentingnya memelihara ekosistem gambut,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertahanan (DLHP) Provinsi Sumsel, Edward Chandra menjelaskan, Sumsel merupakan daerah lahan gambut terluas nomor dua paling luas setelah Riau.
Dengan adanya BRG dan Tim restorasi lahan gambut, diharapkan pada tahun 2020 sekitar 6550 hektar lahan gambut di Sumsel dapat direstotasi dengan baik.
“Luas lahan gambut di Sumsel sekitar 1,2 juta hektar. Untuk saat ini kita melibatkan berbagai pihak fokus pada pemadaman kebakaran, sedangkan untuk mendorong program bisa memanfaatkan dana desa untuk diselipkan edukasi tentang pemahaman karhutla,” ungkapnya.(irs)

















