PALEMBANG, fornews.co-Brisiknya suara yang muncul dari obrolan peserta Kongres ke-4 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)/Dewan Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (DEMA PTAI) se-Indonesia, di Gedung Akademik Center UIN Raden Fatah, Selasa (10/10), ternyata cukup membuat bising suasana kongres.
Bahkan, ketika Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Prof Drs H Sirozi MA Ph.D menyampaikan sambutan, suasana dalam gedung tak ubahnya seperti pasar pagi. Karena, sebagian besar mahasiswa dalam gedung tersebut, hanya disibukkan dengan obrolan mereka masing-masing. Sama halnya, ketika Sekda Provinsi Sumsel, Nasrun Umar, yang juga memberikan kata sambutan mewakili Gubernur Sumsel Alex Noerdin. suara-suara yang muncul dari kursi-kursi mahasiswa makin terdengar ramai.
Kebisingan itu baru mereda, ketika giliran Ketua DPD RI/Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang, yang tampil sebagai mengisi materi pada kongres tersebut. Karena, sebelum menyampaikan banyak hal, Oso, sapaan akrabnya, langsung memberi peringatan pada seluruh mahasiswa yang hadir. “Mahasiswa bisa tertib gak. Kalau belum bisa tertib dan tenang, saya belum akan memulai, mau sampai subuh gak apa-apa. Perlu diingat, demi menghadiri acara kongres ini, saya sudah memajukan jadwal lain. Tidak ada lagi mahasiswa yang keluar masuk (gedung), tutup pintunya,” tegas Oso, dihadapan ratusan mahasiswa dari berbagai PTAI.
Setelah kondisi gedung tenang tanpa suara obrolan mahasiswa lagi, barulah Ketua Umum Partai Hanura itu berbicara. Namun, sebelum menyampaikan materi tentang empat pilar, Oso menceritakan sedikit tentang kisah hidupnya. “Saya anak orang kampung, sudah ditinggal ayah sejak kecil. Ketika umur 8 tahun saya sudah menjadi tukang rokok di pelabuhan. Saat saya jual rokok itu, apa yang terjadi, banyak yang ngutang dan saat mau menagih. Bukan uang yang di dapat, tapi malah di tempeleng,” ungkapnya.
Kemudian, pria yang tercatat sebagai orang nomor 103 terkaya versi majalah Globe Asia tahun 2016 dengan kekayaan $350 juta atau sekitar Rp4,6 triliun itu melanjutkan, pada usia 15 tahun ibunya sudah sangat lelah dan tak mampu lagi bekerja. Jadi, Oso lah harus bekerja, mulai dari kuli angkut karet dari perkebunan yang tak jauh dari rumahnya, hingga merintis usaha dagang.
“Mengapa saya bicara seperti itu, karena dengan semua kekurangan dan keterbatasan, jangan pernah mundur jadi siswa. Makanya saya sedih, bila mahasiswa tidak mengerti tentang filosofi negara, Pancasila sebagai ideologi negara. Memang dimana-mana mahasiswa itu ribut terus, tapi setelah di jelaskan baru tertib. Jadi biarlah mahasiswa itu berkreasi, asalkan bertanggung jawab,” terangnya.
Dalam materi singkatnya, Oso mengatakan, bahwa saat ini negara lagi intervensi oleh negara asing, yang ingin menguasai politik, ekonomi, budaya dalam negeri. “Pengaruh globalisasi kehidupan yang meluas dan persaingan antar bangsa yang makin tajam. Makin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional,” tandasnya. (tul)

















