
PALEMBANG, fornews.co-Tokoh masyarakat Palembang Hernoe Roesprijadji, memperhatikan secara khusus kepedulian terhadap akses ekonomi dan pendidikan berkelanjutan bagi kaum disabel, khususnya kaum tuli di Kota Palembang.
“Berdasarkan data BPS Kota Palembang, angka kemiskinan di Kota Palembang berkisar 12,93% dan angka penganguran produktif berkisar 9,2 %, termasuk di dalamnya kaum disabel,” ujarnya, saat menjadi nara sumber workshop bertema membangun kemandirian ekonomi disabel yang diselengarakan Fakultas Komunikasi, Universitas Bina Darma Rabu (03/05).
Hernoe menjelaskan, berkaca dari hal tersebut, maka ada beberapa hal yang akan dilakukannya. Pertama, menyiapkan SDM yang handal dengan melakukan pelatihan keterampilan berdasarkan kemampuan kaum tuli tersebut. “Seperti design grafis, menjahit, salon, catering dan lainnya. Kemudian akses permodalan tanpa agunan, akses kualitas produk yang dihasilkan, sehingga bisa diterima pasar. Terakhir, dengan membuka pasar seluas luasnya jadi produk yang di buat bisa laku dan memenuhi kriteria pasar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Sumsel Belman Karmuda menerangkan, kepedulian terhadap kaum disabel haruslah dimulai dengan hati. Sehebat apapun peraturan yang ada, kalau tidak dijalankan dengan hati maka akan tidak berarti.
“Akses pendidikan, kesehatan, pekerjan harus menjadi perhatian bagi kaum disable. Salah satunya, yang sering menjadi diskriminasi adalah kesempatan mereka untuk lanjut ke perguruan tinggi. Karena, tidak adanya juru bahasa isyarat Indonesia sehingga menghambat kemajuan kaum disable tersebut,” terangnya.
Belman menuturkan, saat ini pihaknya terus menggalakkan program serius dan konsen terhadap kaum disabel, seperti ekonomi produktif, pelatihan keterampilan dan mensinergikan dengan dunia usaha yang ada di Sumsel.
Kasi Kurikulum Dan Peserta Didik PKLK Eksowinoto S.Pd MM, yang mewakili
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel menuturkan, pendidikan inklusif di Sumsel sudah cukup berjalan dengan baik. “Kita bersyukur, Universitas Bina Darma ini merupakan satu-satu nya universitas di Sumatera yang membuka peluang untuk para kaum disabel, dan yang lain belum ada setelah di Universitas Indonesia (UI), di Yogyakarta” jelasnya.
Dia berharap, seluruh universitas seharusnya menerima kaum disabilitas tersebut. “Pendidikan itu seharusnya mengembangkan potensi yang ada, tanpa alasan tidak mau menerima anak-anak disabilitas. Anak-anak disabilitas juga merupakan bagian dari bangsa kita, karena kaum disabilitas juga banyak memiliki kemampuan-kemampuan yang wajib kita kembangkan potensinya,” tandasnya. (tul)
















