
PALEMBANG, fornews.co-Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Wagub Sumsel), H Ishak Mekki mengungkapkan, untuk saat ini kebutuhan sarjana farmasi di daerah ini belum mencukupi. Baru sekitar 15% kebutuhan sarjana farmasi yang ada di Sumsel.
“Peranan sarjana farmasi sangat dibutuhkan, apalagi dalam menanggapi persoalan yang dihadapi sekarang ini yakni banyaknya obat-obat palsu yang masih beredar, juga masih adanya alat-alat kesehatan yang tidak standar. Saat ini sarjana farmasi masih sangat dibutuhkan di Sumsel, jadi jangan takut nantinya tidak bisa berkerja saya yakin lowongan tempat kerja telah menanti saudara-saudari,” ujar Ishak, saat membuka acara International Seminar dan Workshop yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFI) Bhakti Pertiwi di Ballroom Grand Atyasa Convention Center Senin (23/01).
Ishak Mekki memaparkan bahwa Pemprov Sumsel, terus melakukan upaya untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Di Sumsel sendiri, Kabupaten Muaraenim telah menjalankan program, dimana satu mahasiswa kesehatan melayani satu keluarga. Ini ditujukan untuk memantau kesehatan keluarga sekaligus melayani kesehatan keluarga.
“Tak hanya itu berbagai upaya dalam mensejahterakan masyarakat Sumsel, pemerintah telah membuat dan melakukan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 tahun 2015 tentang bebas asap rokok di tempat-tempat tertentu. Ini juga bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Sumsel khususnya,” terangnya.
Lanjut dia, saat ini Pemprov Sumsel, juga telah membangun rumah sakit pertama di lima kabupaten antara lain, Kabupaten PALI, Muaratara, Banyuasin, Empatlawang, Lubuklinggau. Disamping itu juga Pemprov Sumsel, telah membangun Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Sumsel, dengan layanan unggulan yang beroperasional 2018. “Sehubungan dengan upaya mensejahterakan masyarakat Sumsel, sarjana farmasi harus bersinergi dalam pelayanan kesehatan masyarakat, baik itu di puskesmas maupun di rumah sakit,” ajaknya.
Mengoptimalkan pelayanan kesehatan di Sumsel, sambung Ishak, pemerintah terus berupaya menindak lanjuti amanat undang-undang (UU). Hal ini ditunjukan melalui penganggaran di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dari tahun 2008 berobat gratis melalui program Jamsoskes yang sekarang digabung BPJS Semesta. Bagi masyarakat yang tidak ikut Jamsoskes, bisa masuk ke dalam BPJS semesta yang merupakan program Pemprov Sumsel.
“Harapan saya dengan adanya seminar ini, ilmu teknologi kedokteran, kesehatan terus berkembang. Sebab kalau adik-adik tidak mengikuti teknologi maka akan ketinggalan, mudah-mudahan seminar ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kita dan kemandirian kita,” tandasnya.
Seminar dengan tema “The Role Of Pharmacist In The Era ASEAN Economic Communities (Prospect, Industry Clinical and Government)” merupakan rangkaian Rapat Kerja Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (Rakernas ISMAFARMASI) XIII. Turut hadir pada kesempatan ini Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Dra Lesty Nurainin Apt MKes, Rektor Kampus STIFI Bakti Pertiwi Erjon MKes Apt, Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sumsel Drs Yasmin Hamdani Apt, Lecturer kulliyah of Pharmacy International Islamic University Malaysia Deny Susanti BPharm PHD. (tul)
















