YOGYA, fornews.co—Dalam rangka Peringatan Hadeging Praja Dalem Kadipaten Pakualaman ke-216, Kadipaten Pakualaman menggelar Sayembara Jemparingan Mataraman Paku Alam Cup IV Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Koordinator Sayembara Jemparingan, KMT Sastrodiiprojo, mengatakan sayembara tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Sayembara Jemparingan masih sama pada tahun-tahun sebelumnya memperebutkan trofi bergilir KGPAA Paku Alam,” ujarnya, pekan kemarin.
Baca: Peran Generasi Muda untuk Melakukan Praktik-praktik Tradisi Khas Yogyakarta
Jika sebelumnya Sayembara Jemparingan Mataraman Paku Alam Cup diselenggarakan tingkat nasional, namun, tahun ini digelar pada tingkat Provinsi DIY.
Mengetahui aktivitas dan kegiatan masyarakat terdampak akibat pandemi, pihaknya pasrah, jika, Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali diberlakukan.

Selama pandemi, kata KMT Sastrodipardjo, para atlet jemparingan memanfaatkan PPKM untuk terus berlatih.
“Kalau nanti diberlakukan PPKM kita pasrah terpaksa ya dibatalkan,” ujarnya.
Baca: Pakualaman Sehatkan Indonesia
Sayembara Jemparingan akan berlangsung pada Ahad 27 Maret 2022 di Lapangan Panahan Kopertis Yogyakarta.
Pihaknya berharap dengan adanya sayembara jemparingan ini bakat dan keahlian masyarakat dalam olahraga memanah dapat disalurkan.
Selain itu, para pecinta panah terutama para perajin busur dan anak panah dapat turut serta menikmati jemparingan. “Tentu saja sekaligus meningkatkan ekonomi kreatif.”
“Dengan melestarikan jemparingan, seni memanah tradisional dapat terus terjaga.”
Bahkan, sambung KMT Sastrodipardjo, budaya berpakaian adat Jawa akan lebih tertata karena dalam jemparingan diharuskan mengenakan pakaian adat Jawa dengan baik dan benar.
Baca: Ratusan Pemanah se-Indonesia Berkumpul di Yogya
Jemparingan Mataraman yang merupakan khas panahan Yogyakarta dapat terus dilestarikan oleh masyarakat luas. Tidak hanya di Yogyakarta, namun, juga di seluruh Indonesia.
Selain Sayembara Jemparingan, Kadipaten Pakualaman juga menggelar berbagai perlombaan untuk tingkat nasional, di antaranya lomba penulisan artikel ilmiah, lomba literasi aksara Jawa dan sayembara macapat.
Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman didasarkan pada saat Pangeran Notokusumo diangkat menjadi Pangeran Merdiko, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam ke-1 pada hari Senin Pon tanggal 11 Jumadil Akhir tahun Alip 1739 (Jawa) atau 22 Juni 1812.

Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-216 digelar dan diformulasikan dalam upaya menjalankan amanat UU Keistimewaan DIY Nomor 13 tahun 2012.
Amanat UU Keistimewaan DIY tersebut sebagai bentuk peran dan tanggung jawab Kesultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa. (adam)

















