YOGYA, fornews.co—Peringatan Hadeging Praja Dalem Kadipaten Pakualaman didasarkan pada peristiwa diangkatnya Pangeran Notokusumo menjadi Pangeran Merdiko.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Panitia Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman, BPH Kusumo Bimantoro, di Pura Kadipaten Pakualaman.
Pangeran Merdiko kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I.
Peristiwa itu tercatat pada Senin Pon tanggal 22 Juni 1812 atau 11 Jumadil Akhir tahun Alip 1739 (Jawa).
“Peringatan Hadeging Pakualaman ini diselenggarakan dan diformulasikan dalam upaya menjalankan amanat UU Keistimewaan DIY Nomor 13 Tahun 2012,” tutur BPH Kusumo Bimantoro, Jum’at (14/1/2022).
Baca: Kadipaten Pakualaman Gelar Sayembara Jemparingan Mataraman Paku Alam Cup IV
UU Keistimewaan DIY tersebut sebagai bentuk peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa.
Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-216 yang digelar mulai tanggal 10 Januari – 19 Maret 2022 itu diisi dengan berbagai kegiatan dan perlombaan.
Selain perlombaan, kata BPH Kusumo Bimantoro, juga menggelar pemeriksaan kesehatan, khitanan massal, dan tasyakuran pengetan Hadeging Kadipaten Pakualaman.
Perlombaan tingkat nasional, yakni literasi aksara Jawa, penulisan artikel ilmiah, sayembara macapat Paku Alam Cup X, dan lomba lukis Grand Prix PA Cup IV.
Baca: Gusti Ayu: Kita Harus Malu
Sedangkan perlombaan tingkat DIY dan Jateng, yakni tari klasik Gagrak Pakualaman, mewarnai motif batik Pakualaman, sayembara jemparingan Mataraman Paku Alam Cup IV dan lomba cipta lelagon bocah.
Dipilihnya jenis perlombaan itu karena dinilai kental dengan nuansa tradisi khas Yogyakarta, khususnya Pakualaman.
“Dipilih sebagai wujud pelestarian dan terutama sebagai upaya untuk mengenalkan warisan budaya tersebut kepada generasi muda,” ungkapnya.
Hal ini, sambungnya, sejalan dengan visi KGPAA Paku Alam X untuk melanjutkan kewajiban leluhur Mataram sebagai pengemban kebudayaan.

Kepada fornews.co, putra KGPAA Paku Alam X itu mengatakan bahwa tradisi di Kadipaten Pakualaman sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Yogyakarta melibatkan generasi muda secara langsung dalam perlombaan.
“Memerlukan peran generasi muda untuk melakukan praktik-praktik tradisi khas Yogyakarta secara langsung sebagaimana yang dilombakan.”
Pihaknya mengajak seluruh masyarakat luas, terutama para geneasi muda, untuk ikut serta berpatisipasi dalam perlombaan tersebut.
Serangkaian perlombaan akan digelar di kompleks Kadipaten Pakualaman. Selain itu, juga digelar kegiatan Darma Mulyarja dan acara-acara yang melibatkan warga sekitar Pura Pakualaman.
“Untuk itu, kami mengajak seluruh msyarakat khususnya para kawula muda untuk berpartisipasi dalam perlombaan ini,”pungkas Bendara Pangeran Haryo Kusumo Bimantoro. (adam)

















