
PALEMBANG, Fornews.co – Munculnya permasalahan agama di sejumlah daerah Indonesia juga mendapatkan sorotan serius dari Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto.
Kendati demikian, ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan bijak dalam menanggapi permasalahan dalam urusan agama belakangan ini. “Warga Indonesia itu hidup dalam kemajemukan. Apalagi dalam urusan keagamaan khususnya umat Islam, haruslah mencerminkan Islam,” tegasnya di sela-sela acara silaturahmi kamtibmas di Mapolda Sumsel, Kamis (9/2).
Ia menegaskan, Islamnya Indonesia yang tetap menjunjung tinggi toleransi dan kebhinekaan. Agar NKRI dan Pancasila tetap terjaga, Polri dan TNI telah menggelar apel tiga pilar bersama pemerintah dan masyarakat lainnya.
Menurutnya, dalam menciptakan NKRI yang utuh masih memerlukan peran dari masyarakat luas, terutama dari para ulama dan tokoh masyarakat. Peran media juga sangat besar dalam menciptakan suasana yang kondusif.
Ia juga menyoroti mulai gencarnya era digital dan teknologi canggih di Sumsel. Pemberitaan dapat mengarah ke unsur negatif apabila masyarakat tidak bijak menanggapinya. “Media sangat penting. Pemberitaan, isu negara dan lainnya dengan cepat dapat menyebar lewat media sosial atau media online. Masyarakat juga hendaknya tidak langsung percaya. Tugas dari pemda dan polres di setiap daerah harus aktif dalam mencegah agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” terangnya.
Dalam mencegah konflik berkepanjangan juga, setiap pihak harus bisa memilah dan memilih tindakan. Seperti saat ini sedang gencar dilakukan ajakan untuk ikut aksi 112 di DKI Jakarta. “Kami mengimbau agar semua elemen dapat mengambil tindakan yang bijak. Adanya ajakan untuk aksi 112 harus dapat dicermati,” katanya.
Sementara, Panglima Kodam II Sriwijaya, Mayjend TNI Sudirman mengatakan, saat ini NKRI sedang tidak stabil begitu banyak permasalahan yang timbul. Untuk mengantipasi dan menanganinya bukan hanya peran TNI atau Polri melainkan juga butuh perhatian dari berbagai pihak.
“Menanggapi masalah di Indonesia saat ini, khususnya gejolak pilkada DKI Jakarta. Peran NU dan Muhammadiyah serta MUI sangat dibutuhkan. Semuanya sangat berperan dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tuturnya.
Menurutnya, Indonesia tidak hidup sendiri. Ada banyak negara yang berada di sekitar Indonesia. Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia, harusnya semua yang ada didalamnya sama-sama konsisten dalam menjaga kemajemukan dan kebersamaan serta kerukunan bangsa. “Jangan sampai ada yang mau menghancurkan bangsa dan kita diam saja. Semuanya harus bersatu demi kedaulatan NKRI,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Nadhlatul Ulama Provinsi Sumsel, Amri Siregar mengatakan, NU adalah organisasi yang sepenuhnya menjaga NKRI. “NU konsisten pada NKRI. NkRI adalah harga mati. Tidak boleh ada yang memecah belah, keutuhan bangsa adalah tugas kita bersama,” jelasnya.
NU pada umumnya, dan NU di Sumsel pada khususnya, tidak akan mengirim massa ataupun ikut aksi pada 112 di DKI Jakarta.”Ini memang tidak bisa dilarang. Tapi NU sendiri tidak akan ikut dalam aksi itu. Tentunya kalaupun ingin membela Islam akan ada opsi lain, tidak dengan menggerakan massa,” terang dia.
Senada dengan NU, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumsel, Purmansyah mengakui, Muhammadiyah pun tidak akan turun dalam aksi 112 di DKI Jakarta. “Ini sudah diputuskan, kami tidak ikut aksi 112,” pungkasnya. (bay)















