PALEMBANG, fornews.co – Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dr Achmad Yurianto menerangkan, update penanganan COVID-19 hingga Jumat 26 Juni 2020 pukul 12.00 WIB terdapat 22.819 spesimen yang diperiksa. Sehingga total akumulatif spesimen yang diperiksa 731.781.
“Dari pemeriksaan ini kita dapatkan konfirmasi kasus positif sebanyak 1.240 orang sehingga total 51.427,” ujar Yuri pada konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Jumat (26/06).
Menurut Yuri, melihat sebaran penambahan kasus positif baru, ada lima provinsi yang melaporkan kenaikan kasus yang cukup signifikan yaitu Jawa Timur 356, DKI Jakarta 205, Jawa Tengah 177, Sulawesi Selatan 172, Bali 49.
“Dari penyelidikan epidemiologi terhadap beberapa provinsi yang disebutkan di atas sebagian besar kontak erat masih dijalankan tanpa perlindungan masker dan tidak menjaga jarak. Inilah fakta yang kemudian menyebabkan kasus positif masih tinggi di beberapa tempat,” katanya.
Fakta lainnya, lanjut Yuri, dari 34 provinsi terdampak ada 19 provinsi yang melaporkan penambahan kasus baru di bawah 10. Ada 7 provinsi yang melaporkan tidak ada penambahan kasus baru sama sekali yaitu Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Lampung, Papua Barat, dan Gorontalo.
Sedangkan beberapa provinsi yang melaporkan kasus sembuh lebih banyak dari kasus positif baru hari ini di antaranya Sumatra Utara melaporkan 14 kasus baru dan 64 sembuh, Banten 10 kasus baru dan 13 sembuh, Kalimantan Tengah 7 kasus baru dan 29 sembuh, Bengkulu 4 kasus baru dan 10 sembuh, Sumatra Barat 3 kasus baru dan 10 sembuh, Kepulauan Riau tidak ada kasus baru dan 18 sembuh, Kalimantan Barat tidak ada kasus baru dan 6 sembuh.
“Untuk jumlah kasus sembuh bertambah 884 sehingga total menjadi 21.333. Sedangkan yang meninggal 63 sehingga akumulasinya 2.683,” terangnya.
“Saat ini ada 448 kabupaten/kota terdampak di 34 provinsi. Sementara kita masih melakukan pemantauan terhadap ODP sebanyak 38.381 dan pengawasan ketat kepada PDP sebanyak 13.506 orang,” imbuhnya.
Yuri kembali mengingatkan, menjaga jarak merupakan kunci disamping memakai masker. Beberapa ahli telah melalukan riset bahwa di era adaptasi kebiasaan baru maka ada beberapa titik yang berpotensi menjadi tempat sebaran baru yaitu ruang kantor, rumah makan atau restoran, dan sarana transportasi massal.
“Harus dipastikan setiap orang di ruangan kerja, rumah makan, maupun di transportasi massal itu harus menjaga jarak. Minimal 1,5 meter satu dengan yang lain,” tukas Yuri. (ije)


















