SURAKARTA, fornews.co — Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Kamis, 26 Juni 2025, akan mengelar beberapa tradisi dan Kirab Malam 1 Sura.
Hal ini menandai pergantian tahun bertepatan dengan 29 Besar 1958 dalam kalender Jawa dan 30 Dzulhijjah 1446 Hijriah dalam kalender Islam.
Kerabat Karaton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, kepada fornews.co belum dapat memastikan apakah sejumlah pusaka milik Karaton Surakarta turut dikirab.
Namun, sejumlah kerbau termasuk Kiai Slamet akan diikutsertakan dalam Kirab Malam 1 Sura.
“Biasanya kerbau Kiai Slamet. Kirab dimulai pukul 24.00 atau 00.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB sesuai dengan cucuk lampah,” ujarnya.
Kirab yang akan dilangsungkan pada Kamis malam pukul 00.00 WIB diperkirakan akan diikuti lebih dari 5.000 orang.
Sebelum kirab dimulai, akan dilaksanakan sholat hajat kagungan dalem di masjid Karaton Surakarta, doa bersama, semedi di Taman Sari Bandengan dan sholat Subuh.
Selain itu, sesuai dengan arahan Raja Pakubuwono ke-13 kata KGPH Adipati Dipokusumo, selama bulan Sura ada beberapa kegiatan di Karaton Surakarta salah satunya Labuhan Kiblat Sekawan setelah Malam 1 Sura.
Dengan demikian, malam 1 Suro menjadi awal tahun baru bagi dua sistem penanggalan penting di Indonesia: kalender Jawa dan kalender Hijriah.
Tradisi peringatan malam 1 Suro memiliki akar sejarah panjang sejak masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma Raja Mataram Islam ke-3.
Disampaikan, pada hari Jum’at Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka, Sultan Agung Hanyakrakusuma, memadukan kalender Saka Hindu dengan sistem Hijriah Islam.
Tujuan tersebut untuk menyelaraskan nilai adat Jawa dengan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Hingga kini, Karaton Surakarta mewarisi tradisi malam 1 Suro yang dipandang sebagai momen sakral oleh masyarakat Jawa khususnya Surakarta.
Tradisi ini dimaknai sebagai waktu untuk berintrospeksi diri, membersihkan hati, memperkuat spiritualitas, dan menjaga keluhuran budaya serta kearifan lokal.
Kirab akan dimulai dari Karaton Surakarta, Alun-alun Utara hingga Benteng Vastenburg.
Dari Benteng Vastenburg berjalan melewati perempatan Lojiwetan, perempatan Pasar Kliwon, perempatan Baturono hingga perempatan Gemblegan dilanjutkan melewati perempatan Nonongan, dan Bundaran Gladag.
“Harapannya dengan doa (pada malam 1 Sura) diberikan keselamatan termasuk keselamatan negeri,” ungkapnya.
















