JOGJA, fornews.co — Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar peringatan Tingalan Jumenengan Dalem untuk memperingati kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Tahun ini, peringatan dilaksanakan secara lebih khusus karena bertepatan dengan Tahun Jawa Dal. Dalam kalender Jawa Sultan Agungan, Tingalan Jumenengan Dalem diperingati setiap 29 Rejeb.
Pada 2026, momen tersebut jatuh pada Ahad, 18 Januari 2026 (29 Rejeb Dal 1959) dan menandai 38 tahun masa jumenengan Sri Sultan.

Sementara secara Masehi, Sri Sultan genap bertakhta 37 tahun pada 7 Maret 2026.
Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Karaton Jogja, KRT Kusumonegoro, mengatakan prosesi tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun biasa.
“Dalam satu windu terdapat dua Tingalan Jumenengan yang dianggap lebih besar, yakni Tahun Wawu dan Tahun Dal,” ujarnya.
Diterangkan, bahwa Tahun Wawu adalah tahun penobatan Sultan, sedangkan Tahun Dal berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wassalam.

Rangkaian Hajad Dalem dimulai sejak 27 Rejeb dengan sejumlah prosesi adat, antara lain Bucalan di empat penjuru Kuthagara sebagai doa keselamatan, Ngebluk untuk menyiapkan adonan apem, Ngapem pembuatan apem mustaka dan apem alit, serta Sugengan pada puncak peringatan 29 Rejeb yang diikuti keluarga keraton dan Abdi Dalem.
Sugengan menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar Sri Sultan, keluarga, karaton, serta masyarakat senantiasa diberikan keselamatan.
Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan Labuhan Parangkusumo dan Dlepih, serta Labuhan Lawu dan Merapi.

KRT Kusumonegoro menjelaskan bahwa perbedaan utama Tingalan Jumenengan Dalem Tahun Dal terletak pada prosesi labuhan.
Jika pada tahun biasa labuhan hanya dilakukan di tiga lokasi, yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu, maka pada Tahun Dal ditambah satu lokasi lagi di Petilasan Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
“Khusus Labuhan Ageng, selain tiga tempat utama, masih ada satu lokasi tambahan, yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri,” jelasnya.
Menurutnya, Petilasan Dlepih memiliki nilai historis karena menjadi tempat laku spiritual para pendiri Mataram, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, hingga Pangeran Mangkubumi sebelum mendirikan dan memimpin kerajaan.

Labuhan berasal dari kata labuh yang berarti membuang atau menghanyutkan. Prosesi ini dimaknai sebagai doa untuk membuang sifat buruk sekaligus menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Dalam Labuhan Ageng Dal 1959 terdapat tambahan ubarampe, di antaranya songsong gilap di Parangkusumo, kambil watangan atau pelana kuda di Merapi, serta dua songsong pada Labuhan Lawu.
“Upacara Labuhan merupakan wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus pelaksanaan tugas Sultan dalam Hamemayu Hayuning Bawono, menjaga keselarasan kehidupan dan lingkungan,” kata KRT Kusumonegoro.
Karaton Jogja juga mengimbau masyarakat yang ingin menyaksikan prosesi agar menjaga ketertiban dan kekhidmatan.
“Kami mengajak masyarakat mengedepankan keselamatan, keamanan, dan ketertiban agar seluruh rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem berjalan lancar dan khidmat,” pungkasnya.
















