
ADA yang menarik malam itu di sebuah kedai kopi di daerah 26 ilir, Palembang. Sekelompok anak muda tengah serius mendengarkan seorang lelaki berbicara sambil memegang setoples kopi di tangannya. Sesekali salah seorang dari mereka bertanya, sesekali pula mereka tertawa. Suasana terlihat sangat cair saat mereka berbincang soal kopi yang dipegang lelaki itu.
Beberapa tahun belakangan, kopi menjadi tema yang marak dibicarakan tak terkecuali di Indonesia. Selain sebagai komoditas pertanian/perkebunan, kopi ternyata mampu membuat sebuah kisah menjadi lebih menarik ketika disandingkan dengannya. Beberapa film contohnya, memberikan beberapa scene untuk kopi, bahkan ada yang secara utuh bercerita soal kopi.
Kehadiran film, ternyata secara signifikan menaikkan “level” kopi yang selama ini menjadi komoditas yang biasa-biasa saja di kalangan muda menjadi komoditas yang bergengsi. Di Palembang, penikmat kopi biasanya mudah ditemui di kedai-kedai kopi dan kebanyakan sudah sangat paham dengan varietas kopi yang ingin dinikmatinya.
Mereka (penikmat kopi) dengan sangat spesifik menyebutkan jenis kopi beserta asal kopinya, sebagai contoh; kopi Toraja, Mandeiling, kopi Aceh, dan banyak lagi lainnya. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi kopi di Indonesia, baik pedagang, pelaku bisnis dan petani kopi.
Inilah juga yang dirasakan oleh Herwin Meidison (36). Sejak tahun 2001 (saat ia kuliah di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), pria kelahiran Pagaralam, 25 Mei 1980 ini, mulai menekuni kopi.
Sekarang, sehari-hari ia masih melakukan aktivitas terkait kopi. Selain menyediakan berbagai minuman berbasis kopi di kedai yang didirikan bekerja sama dengan beberapa rekannya, ia juga tengah membangun brand kopi dengan nama “Kopi Endikat” yaitu kopi yang berasal dari kampung halamannya yang berada di ketinggian 800 meter dari permukaan laut (MDPL) wilayah Bukit Barisan, Desa Bintuhan Kecamatan Kota Agung, Lahat, Sumatera Selatan, di tepi sungai Endikat.
Kopi dan Hutan Tropis
Ketertarikan sibungsu dari empat bersaudara terhadap kopi, merupakan bakat yang turun temurun dari kakeknya seorang petani kopi. Hingga saat ini, kebun kopi tersebut masih terpelihara dengan baik. Beberapa bagian bahkan sudah dilakukan peremajaan. Untuk produknya, hasil kopi yang dipanen betul-betul ia pilih agar kontrol kualitasnya tetap terjaga. Itu sebabnya ia merasa percaya diri dengan kualitas kopi yang saat ini diolahnya.
Kopi di tepian Sungai Endikat, rata-rata berjenis Robusta yang musim panennya hanya 1 kali dalam setahun dengan masa panen maksimal hanya sampai 30 hingga 40 hari saja. Setelah itu, petani kopi menunggu hingga masa panen berikutnya tahun depan. Masyarakat Desa Bintuhan, sebagian besar memiliki kebun kopi sendiri.
Jika musim panen tiba, mereka berbondong-bondong ke kebun, bahkan ada yang sampai menginap di dangau atau pondok di tengah kebun, untuk yang kebunnya jauh dari desa. Sepulang dari kebun, kopi hasil panen biasanya langsung diolah untuk dijual kepada pengepul. Secara keseluruhan, saat musim panen masyarakat desa hanya mampu mengumpulkan sekitar 5 ton per tahun, itupun dengan kualitas hasil panen yang belum sesuai dengan standar kopi dunia.
Saat ia kuliah di Yogyakarta, ia belajar banyak soal teknik mengolah kopi mulai dari cara sangrai, hingga cara penyajian kopi. Namun, ketika itu jarang sekali ia mendengar tentang kopi dari Sumatera Selatan. Sebagai Propinsi yang memiliki produksi terbanyak di Indonesia, keadaan ini membuatnya gelisah dan merasa harus melakukan sesuatu.
Melihat kondisi inilah, Herwin, merasa ada peluang sangat baik untuk bisa meningkatkan kualitas hasil panen masyarakat. Dimulai dengan peningkatan kualitas hasil panen dikebunnya sendiri yang ia harapkan nantinya dapat menjadi contoh bagi petani kopi lain di desanya.
Lokasi kebun kopi milik keluarga Herwin, berada di sekitar rumah yang luasnya sekitar 1 hektare. Sejak tahun 1998, lahan tersebut sudah mulai diremajakan. Selain kopi, di lahan itu juga ditanami pohon buah-buahan dengan jenis beragam. Pohon lain juga ditanam di lahan tersebut.
Saat ini telah ada sekitar 70-an jenis tanaman buah dan tanaman kayu hutan, sebagian di antaranya adalah jenis pohon yang sudah langka. Seperti pohon Ndelupang pohon langka yang tahan air, karenanya di masa lalu kayunya banyak dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kincir. Ada lagi pohon buah Sali, buah langka yang bentuknya menyerupai Blueberry dan rasanya perpaduan manis dan asam.
Di lahan itu juga ditanam berbagai jenis durian, selain jenis durian yang merupakan endemik wilayah setempat, seperti durian tembaga, juga ditanam durian jenis lain seperti durian Bangkok Emas serta banyak lagi pohon buah lainnya. Menurut Herwin, kondisi lahan seperti itu akan menghasilkan buah kopi yang sangat baik. Tanaman yang beragam jenisnya selain menjadi naungan bagi kopi, juga sebagai asupan nutrisi bagi pohon kopi, bahkan dapat memperkaya cita-rasa kopi yang dihasilkan. Kopi dari lahan inilah yang menjadi kebanggan Herwin.
Dari Hulu Bergerak ke Hilir
Biji kopi yang dibawa Herwin, ke kedainya tidak hanya berasal dari kebunnya, tapi juga beberapa ia beli dari petani lain yang sesuai dengan spesifikasi yang dimintanya.
Di kedai kopi sering kali ia berbincang dan berdiskusi dengan beberapa orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya soal kopi Sumsel. Bahkan setiap beberapa minggu sekali, ia melakukan sebuah kegiatan yang bernama “Kelas Kopi Pagi”. Isinya adalah berbagi pengalaman bagaimana kondisi kopi terutama persoalan yang banyak ditemuinya selama ini.
Perhatian masyarakat soal apa yang telah dilakukan Herwin tidak hanya datang dari sekitar Palembang saja, beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri yang lalu, ia ditemui 2 orang Eksportir kopi yang datang dari Jakarta khusus untuk melihat lahan kopi di desanya dan setelah itu tertarik bekerja sama dengan Herwin untuk meningkatkan kualitas hasil panen kopi di wilayah Endikat itu. (tul)

















