MAKASSAR, fornews.co – Statistik menunjukkan, jumlah pengusaha di Indonesia, sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Persentase pengusaha dibandingkan jumlah penduduk Indonesia baru mencapai 3,1% jauh dibandingkan Singapura, yang mencapai 7% dan Malaysia, 5%. Sumber lain bahkan menyebutkan, angka pengusaha di Indonesia, belum menyentuh 2% dari jumlah penduduk.
Perlu upaya serius dan terencana untuk mendorong tumbuhnya minat kewirausahaan, terutama di kalangan anak-anak muda. Hadirnya pengusaha-pengusaha baru mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas, diiringi penciptaan lapangan pekerjaan baru.
Kantor Staf Presiden bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan tinggi, Universitas Hasanuddin, Telkom Indonesia, dan Liputan6.com melalui program #KSPGoestoSchool, Selasa (31/10) menyelenggarakan kegiatan yang disebut ‘Enterpreneurs Wanted!’ dengan narasumber Irvan Helmi, perintis Anomali Coffee serta Monica Oudang dari Go-Jek Indonesia, di Auditorium kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).
Acara ini merupakan yang ketujuh pada tahun 2017. Sebelumnya, Kantor Staf Presiden menggelar event serupa dengan pembicara berbeda-beda di Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Padang, Sidoarjo, dan Bogor.
Deputi III Kepala Staf Kepresidanan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis, Denni Puspa Purbasari menegaskan, anak-anak muda Indonesia saat ini harus mengambil tongkat estafet dari generasi tua.
“Seri KSP Goes to School Entrepreneurs Wanted! kali ini menyambangi Indonesia Timur. Kami ingin menggerakkan pertumbuhan entrepreneur baru dari Makassar, dan sekitarnya,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin Dwia A Tina Pulubuhu mengatakan, 32.000 mahasiswanya yang kaum milenial, memiliki potensi untuk menjadi pengusaha yang sukses. “Mereka tidak sabar dan sangat antusias untuk menimba ilmu dari para narasumber,” ujarnya.
Belajar dari inspirasi Anomali dan Go-Jek
Anomali Coffee lahir 10 tahun silam berkat hasil kerja sama Irvan Helmi dan sahabatnya, Muhammad Abgari. Sampai saat ini, Anomali Coffee sudah memiliki 6 outlet yang tersebar di Jakarta dan Bali.
Irvan Helmi lahir 11 April 1982, lulusan dengan jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Sebagai lulusan Ilmu Komputer, Irvan sempat bekerja di Siemens Indonesia. Namun, kecintaannya pada kopi membuatnya rela meninggalkan kursi nyaman sebagai karyawan di perusahaan besar. Setelah banyak belajar dan mendalami perihal kopi, pada tahun 2007 Irvan dan Agam membuka Anomali Coffee.
Irvan melihat bahwa peluang usaha kopi di Indonesia dapat berkembang pesat. Dengan coffee shop-nya, Ia mempunyai misi untuk menyediakan kopi Indonesia dengan kualitas terbaik. “Misi kami adalah menjadi kurator kopi Indonesia,” kata Irvan. “Dan kami berkomitmen hanya mengembangkan kopi Indonesia, karena potensinya sangat luar biasa,” lanjutnya.
Irvan menambahkan, usahanya memiliki perpustakaan kopi dari seluruh tanah air, mulai dari Aceh hingga Papua. Dalam memulai usaha, Irvan menyebut tiga kata kunci yakni creation, evolution, dan iteration. Dengan kata kunci tersebut, ia bersama partnernya membangun dan membesarkan bisnisnya dan mendalami passion-nya.
Saat memulai, Anomali juga mendapatkan pinjaman kursi dari teman dan saudara, dan hanya terdiri dari beberapa bangku saja. Saat ini, kursi di seluruh gerainya sudah mencapai lebih dari 550 buah. Anomali saat memiliki sepuluh gerai, dengan yang terbaru hadir di ‘Tanah Daeng’ tepatnya di Jl Dr Ratulangi No 102, Kota Makassar.
Tanpa Batas
Menjabat sebagai Chief Human Resource Officer Go-Jek, Monica Oudang, bergelut dengan segala urusan perekrutan dan sumber daya manusia, dalam hal ini karyawan Go-Jek yang dijuluki Go-Troops dan para mitra Go-Jek atau driver.
Mengantongi gelar bisnis dan manajemen internasional dari Boston University, Amerika Serikat, Monica memulai kariernya di dunia perbankan. Berkat sentuhan Monica, Go-Jek memberikan peningkatan kesejahteraan bagi para mitranya.
Program akses asuransi dibuat sebagai bentuk dukungan Go-Jek untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Selain itu, ia berharap dengan adanya program asuransi ini, mitra bisa bekerja untuk keluarganya dengan lebih tenang dan nyaman serta lebih produktif.
Sebelumnya, Go-Jek juga meluncurkan program akses layanan perbankan berupa tabungan Haji, tabungan umroh dan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
Hingga saat ini, Go-Jek telah hadir di 50 kota di Indonesia dengan 10 juta pengunduh aplikasi dan lebih dari 300.000 mitra atau driver/pengojek. Go-Jek dengan berbagai fitur layanannya sudah lebih dari dua tahun ini (terhitung sejak Agustus 2015) mempermudah kehidupan warga Kota Makassar.
Cita-cita Go-jek dalam waktu dekat adalah membantu masyarakat untuk menjalani kehidupan tanpa batas. Apa maksudnya? Go-jek ingin menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru menjalani hidup secara lebih mudah melalui aplikasi dan mobile banking.
Tantangan untuk mewujudkan itu ada empat yakni: bagaimana mengubah kebiasaan masyarakat; bagaimana merangkul bisnis-bisnis konvensional; bagaimana berkompetisi baik merangkul talent maupun dengan usaha sejenis; dan kemudian meningkatkan kapasitas bisnis.(*/ibr)

















