YOGYAKARTA, fornews.co—Labuhan peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diadakan setiap tahun digelar tanpa hiburan. Tahun 2020 ini tidak seramai tahun kemarin.
Dilakukannya pembatasan terhadap masyarakat yang akan ikut labuhan untuk mengurangi resiko penularan virus corona.
Komandan SAR Wilayah Cangkringan, Sleman, DIY, Joko Irianto mengatakan, setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait gelar Labuhan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Burwono IX tahun ini tidak melibatkan orang banyak.

“Tiga hari sebelumnya kami sudah melakukan persiapan, termasuk upaya mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya kepada fornews.co di Pos I Gunung Merapi.
Joko menjelaskan, pihaknya bertugas mengawal labuhan hingga selesai. Termasuk menyiapkan tenaga medis dan rescue.
Disinggung soal merebaknya virus corona, pihaknya sudah secermat mungkin melakukan tindakan pencegahan penularan Covid-19 dengan menyediakan desinfektan buatan, sabun dan air, di setiap titik-titik yang dianggap perlu.

Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo atau Mas Asih, justru tidak banyak berkomentar soal virus corona. Ia hanya mengingatkan untuk sementara waktu saling berjarak.
“Sementara waktu tidak perlu bersalaman untuk kebaikan bersama,” katanya.
Mas Asih mengakui meski semua rencana yang dijadwalkan berubah, namun dirinya memaklumi karena Covid-19 merupakan wabah berbahaya.
“Virus Corona ini seperti menjadi momok,” ujarnya.
Dalam prosesi labuhan pagi hingga siang tadi uba rampe dibawa abdi dalem Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Srimanganti di Taman Nasional Gunung Merapi, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (26/3/2020).
Sebelumnya acara serah-serahan ubo rampe di Kecamatan Cangkringan hanya dihadiri beberapa orang dari Kecamatan Depok dan sejumlah orang dari Juru Kunci Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan, Sleman. (adam)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















