JOGJA, fornews.co — Kasus kematian akibat Leptospirosis di sejumlah wilayah di Kota Jogja tidak bisa dianggap remeh.
Hal ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota setempat untuk segera memutus mata rantai Leptospirosis dengan melakukan desinfeksi lingkungan.
Kepala pejabat Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta, dr. Lana Unwanah, MKM, mengungkapkan bahaya Leptospirosis.
Hal itu disampaikan dr Lana dalam Konferensi Pers terkait lonjakan kasus Leptospirosis di Kantor Diskominfosan, Balai Kota Jogja pada Kamis siang, 10 Juli 2025.
“Virus Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang terbuka, atau luka, yang paling sering adalah luka di kaki. Padahal ini sering tidak disadari,” ujarnya.
Lingkungan rumah yang tidak bersih, semrawut dan kotor, hingga sampah di mana-mana, berpotensi menarik tikus berkeliaran.
Dr Lana menyebut sampah, makanan, barang-barang bekas dan kondisi lingkungan yang tidak tertata dengan baik akan selalu menjadi tempat bagi tikus sehingga berpotensi meningkatkan kasus Leptospirosis.
“Maka, selain memperhatikan kebersihan lingkungan pribadi juga harus memperhatikan lingkungan umum termasuk tikus,” imbau dr Lana.
Dibeberkan dr. Lana, tahun ini terdapat kenaikan kasus Leptospirosis dibanding tahun kemarin pada 2024.
Jika pada 2024 terdapat 10 kasus dengan 2 kematian, ungkapnya, tahun ini justru meningkat menjadi 19 kasus dengan 6 kematian.
Dijelaskan dr Lana, tanah yang tercemar air kencing tikus dapat menyebabkan penularan virus Leptospira hingga kematian. Hal ini pernah terjadi awal Januari 2024 lalu di wilayah Baciro.
Mengapa virus Leptospira dapat mengakibatkan kematian? Apa yang menjadi penyebabnya? Apa yang harus dilakukan masyarakat?
Pencegahan virus tikus dapat dilakukan dengan memperhatikan kebersihan diri, lingkungan dan rumah.
“Mengolah limbah sampah rumah tangga dengan benar. Menutup tempat sampah. Artinya, membersihkan tempat-tempat yang selalu disenangi tikus termasuk penampungan air,” imbau dr. Lana.
Leptospira tidak hanya berbahaya bagi kingkungan yang kotor, hal ini juga dapat mengancam petugas sampah, peternak, petani, penambang, bahkan pemancing.
Kemudian lingkungan berisiko seperti genangan air hujan dan tumpukan sampah. Tanpa disadari orang sering bersentuhan dengan sampah dan air kotor dan demam setelahnya.
Virus Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang terbuka, atau luka, yang paling sering adalah luka di kaki. Hal ini seringkali diabaikan.
Seringkali orang mengalami demam, nyeri otot, letih, lesu, atau nyeri kepala, tetapi terlambat mengakses layanan kesehatan karena menganggap hal biasa.
“Yang menjadi masalah adalah gejala klinis pada manusia itu relatif tidak spesifik misalnya demam, nyeri kepala, nyeri otot, atau keluhan yang disebabkan oleh infeksi pada umumnya baik infeksi virus maupun infeksi bakteri,” ujarnya.
Dari kebanyakan kasus yang terjadi disebabkan lambatnya memeriksakan diri kepada layanan kesehatan. Bahkan, kata dr. Lana, hampir semua pasien tidak menyangka telah tertular oleh virus Leptospira.
Jika terpaksa berktifitas atau bekerja pada lingkungan yang diduga sering didatangi tikus, saran dr. Lana, sebaiknya tetap menggunakan pelindung sarung tangan dan sepatu boot, berbahan karet.
“Dan jangan mengabaikan mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun dengan air mengalir untuk meminimalkan risiko,” terangnya.
Seseorang yang terkena Leptospira akan mengalami gangguan fungsi pada ginjal ditandai mata berwarna kuning. Ini sudah pada tingkat yang parah.
Kalau ginjal sudah terganggu, kata dr. Lana, maka harus dilakukan cuci darah.
Ditambahkan drh. Sri Panggarti, selaku Kepala pejabat Bidang Perikanan dan Kehewanan, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, bahaya virus Leptospira dapat ditularkan melalui hewan ternak.
Bagi para pecinta satwa harus lebih peduli terhadap peliharaannya untuk tidak membiarkan berkeliaran, misalnya anjing.
Sebaiknya bagi yang memelihara anjing untuk sesering mungkin membawa ke dokter hewan.
“Meski sapi dan kambing tidak langsung terjadi kontak dengan virus tikus tetapi tetap harus memeriksakan kesehatannya. Sebab, perlakuan kesehatan hewan ternak juga hampir sama dengan manusia,” ungkapnya.
Media penularan Leptospira bisa menyasar pada babi dan kuda. Bahkan, anjing dan kucing.
“Kalau punya anjing atau kucing tetapi pemiliknya bau berarti tidak sayang terhadap peliharaannya,” selorohnya.
Selain hewan, kata dia, kandang juga harus diperhatikan tetap bersih.
Pihaknya, melalui para penyuluh, juga telah melakukan pengendalian tikus pada lahan persawahan di Malangan, Kemantren Umbulharjo.
Pengendalian dilakukan oleh Dinas Pertanian bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jogjakarta yang berkantor di Maguwoharjo, Sleman.
Tapi, sebagai dokter hewan, dirinya menyarankan untuk tidak membasmi tikus menggunakan racun tikus karena sangat berbahaya bagi anak maupun orang dewasa. Sebaiknya menggunakan perangkap.
Menyikapi maraknya kasus tersebut–setelah kasus kematian–pada Selasa, 8 Juli 2025, Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta secara luring mengumpulkan dokter dan perawat puskesmas.
Sedangkan secara daring mengumpulkan para dokter dan perawat klinik serta rumah sakit dengan narasumber dokter penyakit dalam dari Rumah Sakit Pratama.
“Hal itu dilakukan agar para dokter dan perawat dapat lebih sensitif mendiaknosis virus Leptospira,” ucapnya.
Rapid test Leptospira berbeda dengan rapid test demam berdarah. Demam berdarah justru efektif terbaca dibanding rapid test Leptospira.
Demam berdarah efektif terbaca dalam dua hari tetapi tidak untuk Leptospira. Sementara Leptospira membutuhkan waktu lima hari setelah terjadi demam.
“Jadi, akan sulit terbaca kurang dari lima hari meskipun tanpa disadari sudah terinfeksi bakteri Leptospira,” ujarnya.
Dalam Konferensi Pers, dr. Lana yang hadir bersama dr. Endang selaku Kepala Seksi P2M, sempat menceritakan kasus kematian akibat Leptospira.
Terakhir ada seseorang terkena virus Leptospira, tetapi, setelah sepekan baru dibawa ke rumah sakit.
Padahal yang bersangkutan mulai sakit pada 30 Juni, tapi baru mengakses layanan ke rumah sakit pada 7 Juli.
Kemudian, setelah sakit parah, korban baru dibawa ke rumah sakit.
“Bakteri itu sebenarnya obatnya antibiotik ada di puskesmas agar kemudian tidak berlarut-larut dan merugikan pasien itu sendiri,” kata dr. Lana.
Guna memutus penyebaran Leptospirosis, pihaknya akan segera melakukan mitigasi bersinergi dengan melibatkan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), antara lain Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, berikut dinas terkait lain untuk mengatasi persoalan ini.
Termasuk OPD Dinas Perdagangan mengetahui kondisi pasar dengan barang-barang menumpuk yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya tikus.
Menutup Konferensi Pers, dr. Lana dan drh. Sri Panggarti, berpesan untuk selalu mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun dengan air mengalir, serta menjaga kebersihan lingkungan.

















