
USIANYA sudah menginjak 61, namun saat memetik senar dari gitar yang memiliki ukuran berbeda dari gitar kebanyakan, Arman Idris tetap pandai melantunkan lirik-lirik ‘Nasib Melarat’ lagu Batanghari Sembilan. Meski, suara petikan gitarnya tak terlalu kuat, namun cukup jelas diterima telinga.
“Lagu ini tanpa kunci, hanya mengikuti alur dari lagu tersebut,” ujarnya, sebelum manggung di acara Jambore Pecinta Alam di Pagaralam, Jumat (25/11).
Arman menuturkan, gitar yang dimainkannya bukan gitar biasa. Namun, alat musik yang berbentuk panjang dan lebih ramping dari gitar biasa tersebut, merupakan gitar khas tanah Besemah, atau kerap disebut gitar Besemah.
“Sebenarnya, asal muasal dari gitar Besemah ini tidak ada yang tersirat dan tertulis, melainkan hanya cerita nostalgia. Jadi sangat susah untuk menarik kesimpulan bagaimana sejatinya bentuk fisik sari alat musik petik tersebut. Makanya, saya berharap kedepan sebaiknya semua budaya harus ada cerita tertulis. Inikan sama dengan istilah ada orannya tapi tak tahu asalnya,” ungkap seniman dan seni budaya Besemah itu.
Terkait bentuk gitar Besemah yang dimainnya tersebut lebih ramping dan panjang, jika tidak memiliki referensi yang cukup tentang gitar itu. Arman menuturkan, bahwa bentuk dan ukuran gitar tersebut dibuat kembali setelah melihat dari foto yang sebenarnya. “Kisah gitar Besemah ini kan sempat menjadi bagian cerita dari film Gending Sriwijaya, yang disutradarai Hanum Bramantio. Dalam film tersebut mengungkap diantara Besemah dan Palembang, namun gitar itu dibuat sesaui dengan yang di foto sebenarnya,” jelasnya.
Pria kelahiran Pagaralam 1 Juni 1955 ini menceritakan, pertama kali memainkan gitar Besemah tersebut pada 26 November 2011, saat dia mewakili Sumsel pada satu acara pagelaran seni yang digagas Kemensos yang pesertanya se-indonesia di Jakarta. Kebetulan dia mendapat penghargaan predikat juara 1, dengan alat musik gitar besemah dan sastra tutur atau guritan. “Kemudian, setelah itu saya dipanggil gubernur untuk shooting film Gending Sriwijaya, karya Hanum Bramantio,” katanya.
Asman yang sudah memainkan gitar sejak kelas dua SD itu menguraikan, cara memainkan gitar Besemah ini sama dengan gitar biasa, hanya bentuk fisiknya yang berbeda lebih memanjang. Tapi untuk melantunkan lagu-lagu Batanghari Sembilen berbeda, tidak ada kunci tuk memainkannya, tergantug naluri. “Lagu-lagu Besemah yang didendangkan itu berkaitan dengan ungkapan perasaan, baik tentang nasib, keadaan dan kondisi,” katanya, sambil memainkan sepenggal lirik lagu Antan Delapan yang juga lagu Batanghari sembilan.
Bersama gitar Besemahnya, Arman telah menjalani dari panggung ke panggung mulai dari Sumatera yang hampir semua daerah, kemudian Jawa, Beijing, Tokyo, Seoul, Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia dan pernah di minta Gubernur Sumsel Alex Noerdin untuk tur, Palembang, Batam, Singapura dan Jeddah sambil umroh.
“Awalnya untuk kesempatan tampil memang dulu ragu, kemana jangkauan ketika menekuni lagu lagu seni budaya ini. Tapi setelahnya, tampil responnya cukup banyak. Dari situ banyak kesempatan tampil, baik di acara pemerintah maupun swasta,” ujarnya.
Sebagai seorang seniman, tentu Arman mendambakan punya sanggar, yang bisa dijadikan media bagi penggiat seni dan budaya. Namun, keinginannya sempat mentah ketika usulan pembuatan sanggar budaya itu diusulkan ke Dinas Pariwisata Pagaralam. Alasannya klasik, karena tidak ada anggaran jadi tak bisa.
“Saat dapat penghargaan Menteri Sosial Saleh Assegaf tahun 2015 sebesar Rp50 juta, langsung uang itu saya digunakan bangun sanggar. Sekarang sanggar itu masih berjalan, karena banyak mahasiswa yang memanfaatkan untuk pembutan makalah dan sebagainya. Namanya Sanggar Budaya Besemah, itu milik pribadi di Desa Tegur Wangi Lama, Kecamatan Dempo Utara,” tutupnya.
















