PALEMBANG, fornews.co-Empat Pasangan Calon (Paslon) Gubernur Sumsel yang bertarung pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 ini, dinilai publik memiliki kecerdasan dan ketangkasan masing-masing.
Namun, kecerdasan dan ketangkasan para kandidat tersebut masih harus dikomersilkan lagi oleh tim sukses (timses) ke seluruh masyarakat Sumsel. Karena si calon, tak mungkin bisa merayu semua masyarakat tanpa bumbu retorika dari timses tersebut.
Menurut Pengamat Politik dan Pemerintahan Sumsel, Prof Alfitri, tak bisa dipungkiri hingga saat ini masyarakat Sumsel masih terlalu mudah dirayu oleh tim-tim sukses dari masing-masing Paslon Gubernur Sumsel.
“Sebenarnya setiap digelarnya pilkada, masyarakat itu tidak banyak yang diinginkan, mereka hanya ingin bukti. Nah pada kondisi seperti inilah semua harus diretorika-kan oleh timses dari masing-masing calon. Dengan kecerdasan dan ketangkasan itulah, terlihat masyarakat di Sumsel ini masih mudah di rayu dan dijinakkan,” ungkapnya, saat jadi pembicara pada Diskusi Publik Terarah ‘Kecerdasan dan Ketangkasan Paslon Gubernur, Perspektif dan Ekspektasi Publik’ di Meet Up Cafe, Kamis (08/03) malam.
Menurut Wakil Dekan 1 FISIP Unsri itu, Secara konfigurasi, keempat kandidat palson sudah memenuhi syarat. Tapi akan lebih sempurna jika semua memadukan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
“Ya memang seorang pemimpin itu harus memiliki syarat itu. Makanya, publik disuguhi empat kandidat tersebut. Jadi tinggal siapa yang paling cerdas, tangkas dan sebagainya. Ada kandidat yang konsisten yang menampilkan kecerdasan dan ketangkasan. Tapi ada juga yang memainkan peran dengan menilai calon lain,” katanya.
Pemerhati Pendidikan Sumsel, Dr Edy Harapan dari Universitas PGRI mengatakan, istilah cerdas itu sebenarnya diatas pintar. Sudah tentu, untuk menjadi seorang pemimpin itu memang perlu cerdas. Hanya saja, jika dari sisi pendidikan, belum tentu yang berpendidikan atau pemilik gelar itu cerdas.
“Tapi saya lihat, ada sesuatu yang lupa dari pantauan kita. Seorang pemimpin itu juga harus punya kharisma yang perlu dijual. Mahatma Ghandi bukan sosok yang ganteng, tapi dia bisa mempengaruhi masyarakat. Namun, di sini (Sumsel) justru timses nya yang bisa mempengaruhi,” katanya.
Sementara, Pemerhati Media dan Publik Sumsel, Dr Arif Ardiansyah MSi menuturkan, pada gelaran Pilgub Sumsel kali ini diuntungkan tidak bermain calon incumbent. Karena tingkat kepuasan publik terhadap calon incumbent, akan bisa menjadi daya jual yang cukup efektif di masyarakat.
“Jadi, disini tinggal bagaimana kecerdasan dan ketangkasan dari para calon, untuk merebut hati masyarakat. Tentu, disitu ada peran timses, yang lebih meyakinkan publik dengan cara mereka masing-masing,” tuturnya.
Arif menilai, kadang-kadang cerdas itu beda tipis dengan calak. Karena, ada juga kecerdasan calon itu itu bukan didapat dari pendidikan. “Namun, faktanya pada pilkada, semua tidak cukup dengan kecerdasan itu. Ada faktor-faktor lain untuk bisa memenangkan pertarungan. Karena disini tidak ada juara dua dan tiga, tapi pemenangnya hanya satu,” tukasnya.
Tokoh Politik PDIP Sumsel, Pahlevi Maizano SH mengungkapkan, jika berbicara tentang cerdas dan tangkasnya empat Paslon Gubernur Sumsel, tentu mereka harus ada kecerdasan intelektual, emosional, dan religius. Kombinasi dari tiga kecerdasan tersebut akan bisa mengelola apa yang dibutuhkan masyarakat Sumsel.
“Kalau bicara ketangkasan, mampu mencari solusi diluar semua kecerdasan tadi. Kalau kita lihat semua calon ini, kita akan dapat menilai dimana letak kecerdasan intelektualnya, emosionalnya dan religiusnya. Karena saya orang parpol jadi saya tidak bisa bicara tentang tiap tiap calon,” tandasnya. (tul)

















