PALEMBANG, fornews.co – Perpaduan benang merah, biru, putih, dan benang emas membentuk kain songket khas Palembang, dengan corak yang istimewa. Lepus, beranti dan tabur, ragam motif songket dikenal sarat nilai-nilai budaya bagi masyarakat Bumi Sriwijaya, yakni adiluhung (simbol kemakmuran, kejayaan, dan keberanian).
Songket Palembang, merupakan salah satu karya budaya dari Sumatra Selatan (Sumsel), yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2013 lalu. Dalam catatan sejarah, songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823).
Konon, di era (Kesultanan) tersebut, songket hanya dikenakan oleh raja atau sultan dan kerabat keraton. Keberadaan tradisi kain songket di Indonesia, juga kerap dikaitkan dengan masa kemakmuran dan kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, pada abad ke-7 hingga abad 13.
Nyimas Ida Mahidin (43), salah satu pengerajin dan pemilik galeri Songket Serengam menceritakan, nilai sejarah dan budaya dari kain (songket) yang tinggi, menginspirasi neneknya untuk membuka usaha songket pada 1973 di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 32 Ilir, Kecamatan Gandus, Kota Palembang.
“Usaha songket ini, dirintis oleh nenek kami. Kemudian diturunkan (waris) kepada orang tua kami (Kms Mahidin Ahmad dan Nyayu Sadiah), hingga akhirnya (estafet usaha) diturunkan kepada saya,” tuturnya saat ditemui di tempat usahanya, Senin (15/07).
Ia menjelaskan, seiring perubahan zaman, songket bukan lagi menjadi pakaian bagi raja atau kesultanan serta keluarga keraton. Juga menjadi pakaian pengantin dengan motif yang belum terlalu banyak di antaranya, Bungo Lepus, beranti, dan tabur. Namun, seiring dengan waktu, kain tenunan ini pun terus berkembang dan berinovasi hingga muncul berbagai motif dan perpaduan warna.
“Dahulu itu sangat sulit untuk mendapatkan bahan baku terutama benang emas. Namun, kini bahan baku songket sudah lebih ringan,” katanya.
Untuk membuat satu songket, ibu empat anak ini mengaku, bukan perkara mudah. Apalagi, untuk motif lepus atau corak penuh. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan yakni mencapai tiga bulan, karena memang harus menentukan pola dan ditenun menggunakan tenaga manusia.
“Beruntung, saat ini masih banyak para penenun songket sehingga kain songket tetap dapat diproduksi sampai sekarang,” ujarnya, seraya berharap warisan budaya nenek moyang itu jangan sampai punah tergerus modernisasi.
Songket Ratusan Juta

Umumnya, songket pada galeri Nyimas Ida, dibanderol seharga Rp1,5 juta-Rp5 juta sesuai motif dan tingkat kesulitan (tenunan songket). Namun, dikatakan Ida, ada juga harganya mencapai ratusan juta rupiah.
“Meski tergolong mahal, kain ini tetap menjadi primadona dan diburu masyarakat baik di Palembang, hingga luar negeri. Terutama bagi kolektor,” terangnya.
Sebagai pengerajin dan pengusaha songket, Ida juga mengaku jadi kolektor songket. Bahkan, untuk mendapatkan barang buruannya, ia rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar dan memburunya hingga ke daerah lain, seperti Bali.
“Songket lama ini ada yang merupakan warisan nenek, dan ada juga yang dibeli dari kolektor,” katanya. Ia memiliki lima helai koleksi songket lawas dengan motif nago besaung serta kemben bungkun.
Ke depan, dirinya berharap, agar pemerintah terus mendukung kelestarian songket di Palembang, karena ini merupakan ciri khas Kota Pempek.
“Ya, kalau bisa diajarkan juga di sekolah cara menenun songket sehingga kain ini dapat lebih baik lagi ke depannya,” harapnya.
Sabar dan Tekun

Indahnya kain songket, tidak terlepas dari buah kesabaran dan ketekunan para penenun. Khadijah (50), setidaknya telah bekerja sebagai penenun songket lebih dari separu usianya yakni 30 tahun.
“Untuk menenun sebuah songket dibutuhkan sebuah kesabaran. Karena, harus menyusun setiap benang menjadi sebuah kain songket yang indah dan anggun,” katanya. “Kalau awal menenun dulu, itu paling susah untuk menyusun benangnya,” sambungnya.
Seiring dengan waktu jari jemari yang mulai menua itu, begitu terasah. Meskipun begitu, untuk membuat sebuah songket dirinya butuh waktu satu bulan. Bahkan, jika motif yang dibuat sulit bisa mencapai tiga bulan. Adapun upah perhelai di terima Khadijah kisaran Rp350.000.
Menurutnya, tingkat kesulitan pembuatan songket Palembang, cukup tinggi. Berbeda dengan songket di daerah Sumsel, lainnya. Kesulitannya sendiri, dikarenakan benang yang dipasang harus sangat rapat. Tidak halnya dengan daerah lainnya.
“Semoga saja, akan banyak penenun-penenun muda yang pandai berinovasi menciptakan motif baru,” harapnya. (alu)
















