BATURAJA, fornews.co – Petugas dan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), sering mengeluhkan minimnya fasilitas infrastruktur di dalam komplek pembinaan orang yang bermasalah dengan hukum di daerah tersebut.
Infrastruktur dimaksud, berupa ketersediaan air bersih, di mana Rutan Baturaja, harus beli setiap harinya ke PDAM karena tidak adanya jaringan PDAM, sedangkan sumur bor yang dimiliki tidak mengeluarkan air. Selain itu, bangunan tempat peribadatan yang ukurannya tidak dapat menampung warga binaan serta petugas saat menjalankan ibadah shalat.
Salah satu warga binaan yang ditemui di sekitaran masjid Rutan Baturaja, Kamis (05/10), mengatakan, mereka memaksakan merasa nyaman saat melaksanakan sholat dengan posisi berhimpit-himpitan di bawah terpal, mengingat kondisi masjid yang kecil (4×6 meter persegi).
“Ya mau bagaimana lagi, kami shalat di berhimpit-himpitan di sini. Kami hanya meminta tolong besarkan lagi masjid ini. Semenjak ada peraturan baru Kepala Rutan, setiap warga binaan wajib melaksanakan shalat berjamaah, masjid ini selalu ramai jika sudah masuk waktu sholat. Berbeda dengan sebelumnya, masjid ini hanya diisi paling banyak orang 10 orang,” katanya.
Lebih dari itu dirinya berharap agar pasokan air di Rutan, juga diperbanyak. Karena jika hari Sabtu dan Minggu, air yang dibeli oleh Rutan dari PDAM menggunakan mobil tanki, tidak datang (libur).
“Kita tidak ada ledeng pak, air beli dari PDAM menggunakan tanki. Jika Sabtu dan Minggu, kami sering tidak mandi, sebab petugas PDAM tidak nganter air. Ada sumur bor juga tidak ada airnya. Tolonglah pak kasih tau pemerintah daerah agar kami diperhatikan,” harapnya.
Sementara, Kepala Rutan Baturaja, Herdianto AMd IP SH MSi mengatakan, warga binaan harus menerima kondisi yang serba minim. Di saat warga binaan mempunyai niat yang baik dan semangat untuk sholat berjamaah, harus berhimpit-himpitan.
“Setidaknya, kami harus memutar otak untuk membuat warga binaan nyaman saat sholat. Ya, mau tidak mau kami pasang terpal untuk warga binaan supaya nyaman saat sholat,” ujarnya.
Hardianto berharap, pemerintah daerah (Pemkab OKU) agar lebih memperhatikan lagi para warga binaan. Ia mengemukakan, ada sekitar 414 warga binaan di Rutan Baturaja. 99% merupakan warga OKU, yang juga harus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Ini miniatur warga OKU. Hanya saja warga binaan ini dibatasi oleh tembok tinggi dan bukan keinginan mereka berada di dalam sini. Mudah-mudahan masjid Rutan ini bisa diperlebar oleh pemerintah daerah. Kiri dan kanan masjid masih ada tanah 5 meter, jadi diperkirakan ada kenyamanan nantinya saat para warga binaan melaksanakan shalat,” tandasnya. (gus)

















