JAKARTA, fornews.co-Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) bakal didaulat menjadi tempat pilot project penerapan dan tempat diproduksinya aspal karet. Pemanfaatan komoditas untuk menjadi bahan pendukung aspal ini, sudah di teliti dan sedang diuji oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Bupati Muba Dodi Reza Alex menerangkan, bahwa Kementerian Perindustrian akan bekerja sama dengan Pemkab Muba dalam penerapan aspal karet di jalan-jalan diBumi Serasan Sekate. “Kerjasama ini memang difokuskan pada solusi pemanfaatan karet yang harganya jatuh, dengan terobosan untuk di jadikan aspal karet. Nah, Muba sendiri akan jadi kabupaten pilot project penerapan dan tempat diproduksinya aspal karet itu. Mudah mudahan akan menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan harga karet,” ujar Dodi Reza, Senin (16/10).
Dodi melanjutkan, dari hasil kajian, hitung-hitungan dan teknologinya, maka pada November ini akan selesai dan menunggu pengesahan tiga menteri, yakni Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Pekerjaan Umum. “Diharapkan, dari terobosan ini dapat menyerap karet produksi rakyat Muba, dan Sumsel tidak perlu keluar lagi, karena harga ekspor sekarag rendah,” ujarnya.
Terpisah, Wakil Bupati Muba, Beni Hernedi menuturkan, sebenarnya Insyallah inilah bentuk hilirisasi karet yang sesungguhnya. Setelah ini, maka akan dibentuk tim bersama guna percepatan proyek tersebut. “Pemda Muba bersedia menerapkan penggunaan aspal karet untuk jalan-jalan yang sedang digiatkan. Secara bersamaan, karet dari rakyat dibeli dengan harga ekonomis memadai,” tuturnya.
Beni yang juga berbicara dengan Direktur Jenderal Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, menjelaskan, memang harga karet terpuruk sejak lima tahun terakhir dan nasib petani karet pun semakin mengenaskan. Harga karet dunia mulai menunjukkan kejatuhan pada 2011. “Saat itu, harga masih di kisaran USD 4,7 per kilogram (kg) sebelum akhirnya terus turun. Memasuki Januari tahun 2016, harga hanya di kisaran USD 1,3 per kg. Ini artinya, harga sudah turun hingga 72,2% selama sekitar lima tahun terakhir,” jelasnya.
Beni memaparkan, harga karet terus menunjukkan penurunan. Angkanya masih tetap di kisaran Rp5.000 per kg. Padahal, harga karet idealnya di kisaran Rp12.000 per kg. Harga karet di pasar dunia memang sedang mengalami kehancuran berlarut-larut. Nasibnya hampir tak jauh berbeda dengan kondisi minyak dunia. Melimpahnya suplai disaat permintaan melemah, menyebabkan harga hancur-hancuran. Indonesia yang merupakan salah satu penghasil utama karet dunia sudah pasti menderita.
“Penurunan harga karet ini merupakan faktor kombinasi antara melimpahnya suplai dan melemahnya permintaan. Pasar global mengalami kelebihan suplai karena terjadi kematangan pohon secara bersamaan. Negara-negara baru pengekspor karet bermunculan, seperti Laos, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja,”paparnya.
Ikut bermainnya negara-negara baru penghasil karet ini, urai Beni, tentu semakin membuat hancur harga karet dunia karena pasokan menjadi berlimpah. Di saat yang sama, Tiongkok sebagai importir karet terbesar dunia mengalami perlambatan ekonomi. Penurunan harga akhirnya sulit dikendalikan. Dampak dari jatuhnya harga karet memang dirasakan oleh hampir seluruh petani karet di negeri ini.
“Wajar jika kemudian banyak petani di beberapa sentra perkebunan mulai mencari alternatif tanaman atau pekerjaan lain, yang bisa diharapkan untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, karena berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat Muba dan Sumsel yang banyak mengandalkan karet pada umumnya,” urainya.
Beni menambahkan, sebagai informasi, luas perkebunan karet di Sumsel mencapai 662.685 Hektare (Ha). Terdiri dari 614.021 Ha perkebunan rakyat, 24.007 Ha perkebunan swasta, serta 21.741 Ha milik negara. Total jumlah petani karet sekitar 1,5 juta orang dengan volume produksi 515.965 ton per tahun. Sementara, produksi karet muba setahun bisa mencapai 200.000 ton.
“Ketika permintaan dunia sedang melemah, maka satu-satunya jalan untuk memperbaiki permintaan adalah dengan menggenjot penyerapan domestik. Indonesia harus belajar kepada Thailand, yang daya serap domestiknya mencapai 40% karena kebutuhan industri otomotifnya,” tandasnya. (tul)

















