JOGJA, fornews.co — Pada paruh akhir abad ke-19, Jogja pernah menjadi salah satu pusat industri gula terpenting di Pulau Jawa.
Di antara hamparan kebun tebu yang membentang luas, terdapat Pabrik Gula Tanjung Tirto yang kelak menjadi saksi naik dan runtuhnya kejayaan gula dari Jawa.
Pabrik ini didirikan pada tahun 1874 oleh Wolter Broose van Groneau, seorang berkebangsaan Belanda yang memiliki hubungan keluarga dengan pemilik lahan tebu di wilayah Kalasan dan Beran, Freederik Willem Wieseman.

Keberadaan lahan yang subur serta dukungan modal swasta menjadikan wilayah ini ideal untuk pengembangan industri gula.
Awalnya, pabrik ini dikenal dengan nama Pabrik Gula Bantul, sebelum kemudian berganti nama menjadi Pabrik Gula Kalasan pada tahun 1933.
Sejak awal berdirinya, Pabrik Gula Tanjung Tirto tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai penggerak kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Berbagai fasilitas pendukung turut dibangun, seperti rumah sakit pembantu pada tahun 1922, perumahan pegawai pada 1923–1924, serta sekolah pertukaran yang dibuka pada Mei 1928.

Kehadiran fasilitas-fasilitas ini menunjukkan betapa pentingnya peran pabrik gula dalam membentuk struktur sosial kolonial di Jogjakarta.
Perkembangan industri gula di Jogjakarta tidak dapat dilepaskan dari kebijakan kolonial Hindia Belanda.
Bahkan sejak diberlakukannya Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada 1830–1850, tebu telah menjadi komoditas utama.
Namun, lonjakan besar industri gula terjadi setelah disahkannya Agrarische Wet 1870, sebuah undang-undang yang membuka pintu investasi swasta non-pemerintah di sektor perkebunan.
Aturan ini memungkinkan sistem hak sewa tanah hingga 70 tahun, yang mendorong berdirinya perkebunan besar dan pabrik gula di berbagai wilayah Jogjakarta.
Akibat kebijakan tersebut, setidaknya 19 pabrik gula pernah berdiri di wilayah Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.
Sebut saja PG Medari, PG Cebongan, PG Sewugalur, PG Gondanglipuro, PG Beran, hingga PG Tanjung Tirto yang menjadi simbol kemakmuran ekonomi kolonial.

Untuk mendukung distribusi gula, sarana transportasi modern turut dikembangkan.
Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) membangun jalur kereta api yang menghubungkan pabrik-pabrik gula dengan pelabuhan dan pusat perdagangan, baik di lintas selatan maupun utara Jogjakarta.
Namun, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 1929, dunia dilanda krisis ekonomi global yang dikenal sebagai Malaise, dipicu oleh runtuhnya bursa saham New York.
Dampaknya terasa hingga ke Hindia Belanda. Negara-negara tujuan ekspor gula menghilang, produksi dibatasi.
Bahkan pada 1931 diberlakukan Charbourne Agreement yang mewajibkan pengurangan produksi gula di Jawa dari sekitar 3 juta ton menjadi 1,4 juta ton per tahun.
Akibatnya, banyak pabrik gula ditutup, menyisakan hanya delapan pabrik yang masih bertahan, termasuk PG Tanjung Tirto.

PG Tanjung Tirto tercatat sebagai salah satu pabrik yang mampu bertahan melewati badai krisis ekonomi 1930-an.
Namun, ujian terberat datang setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Jogjakarta menjadi pusat pertempuran.
Untuk menghambat laju pasukan Belanda, rakyat dan pejuang melakukan strategi bumi hangus yaitu merusak berbagai fasilitas mulai dari jembatan, jalan, hingga bekas bangunan pabrik gula.
Strategi itu dimaksudkan agar tidak dimanfaatkan sebagai basis pertahanan musuh.
Dalam peristiwa inilah, Pabrik Gula Tanjung Tirto mengalami kehancuran.
Setelah Indonesia merdeka, sisa-sisa kejayaan pabrik gula itu perlahan berubah fungsi.

“Rumah dinas administrateur dijadikan sekolah, rumah pengawas beralih menjadi kantor polisi sektor,” tutur Supomo (80) warga setempat yang sempat menyaksikan rel lori.
Kata Supomo, area pabrik gula ini sangat luas. Ada lapangan dan sekolah SMK yang dulunya menjadi tempat penyortiran gula.
Lalu, di sisi barat pasar adalah tempat parkir puluhan lori pengangkut tebu. Di bagian belakang pasar yang berbatasan dengan sekolahan terdapat sumur besar peninggalan Belanda.
Saat fornews.co bertandang ke lokasi sumur yang menjadi bagian dari pabrik gula itu sudah hilang. Sudah berganti bangunan rumah.
Namun, waktu terus berjalan. Hingga tahun 1960-an, lahan bekas pabrik ini hanya dimanfaatkan sebagai gudang pengeringan tembakau.

Perlahan namun pasti, bangunan pabrik pun menghilang, tersapu oleh pembangunan dan pemukiman penduduk.
“Pabrik Gula Tanjung Tirto hanya tinggal nama dalam catatan sejarah,” ujar Wawan yang kini mengepalai gudang tembakau.
Dari puluhan pabrik gula yang pernah berjaya di Jogjakarta, hanya PG Madukismo di Bantul yang masih aktif memproduksi gula.
Meski bangunannya telah rata dengan tanah, kisah Pabrik Gula Tanjung Tirto tetap menjadi saksi bisu bagaimana industri gula pernah membentuk wajah ekonomi, sosial, dan sejarah Jogjakarta yang kini tinggal kenangan.
















