PALEMBANG, fornews.co – Pemeriksaan spesimen dalam 24 jam terakhir mengalami peningkatan signifikan. Hasilnya, jumlah temuan kasus konfirmasi positif baru COVID-19 juga mengalami kenaikan.
Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dr Achmad Yurianto mengatakan, pemeriksaan spesimen hari ini yang dikumpulkan sejak pukul 12.00 WIB 23 Juni 2020 hingga pukul 12.00 WIB 24 Juni 2020 sebanyak 21.233 spesimen. Sehingga secara akumulasi total spesimen yang diperiksa 689.492.
“Dari pemeriksaan ini kita mendapat kasus konfirmasi positif baru sebanyak 1.113 sehingga total menjadi 49.009,” ujar Yuri pada konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Rabu (24/06).
Menurut Yuri, distribusi penambahan kasus positif baru ini didominasi lima provinsi yang melaporkan kasus positif baru cukup signifikan yaitu Jawa Timur 183, DKI Jakarta 157, Sulawesi Selatan 132, Maluku Utara 95, dan Kalimantan Selatan 90. Ada 18 provinsi yang melaporkan kasus baru di bawah 10. Dari jumlah itu 5 provinsi tidak melaporkan adanya penambahan kasus baru yaitu Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Sedangkan beberapa provinsi yang melaporkan kasus sembuh lebih banyak dari kasus positif baru hari ini di antaranya Kalimantan Timur 9 kasus baru dan 10 sembuh, Gorontalo 7 kasus baru dan 31 sembuh, Sumatra Barat 3 kasus baru dan 14 sembuh, Lampung 2 kasus baru dan 4 sembuh, DI Yogyakarta 1 kasus baru dan 4 sembuh, Papua Barat 1 kasus baru dan 16 sembuh, Bangka Belitung tidak ada kasus baru dan 9 sembuh, Bengkulu tidak ada kasus baru dan 1 sembuh, Kalimantan Barat tidak ada kasus baru dan 5 sembuh.
“Total kasus sembuh hari ini sebanyak 417 orang sehingga akumulasi 19.658 orang. Sedangkan kasus meninggal 38 orang menjadi 2.573 orang,” terang Yuri.
Untuk jumlah orang yang dipantau 36.648 dan pasien yang dalam pengawasan 13.069. Ada 443 kabupaten/kota terdampak di 34 provinsi.
Yuri mengatakan, masyarakat harus kembali memahami bahwa proses penularan yang terjadi hari ke hari di beberapa provinsi menggambarkan bahwa masih ada sumber penularan yang ada di tengah masyarakat. Kasus yang positif dan kemudian tidak memiliki gejala yang signifikan membuat merasa lebih aman atau merasa sehat, ini yang tidak disadari bisa menjadi sumber penularan. Hal ini ditambah lagi dengan masih adanya kelompok rentan yang tidak mematuhi protokol kesehatan, tidak menjaga jarak, tidak memakai masker, dan kemudian tidak rajin mencuci tangan.
Selanjutnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 juga melakukan analisa data. Dari analisa tersebut didapatkan hasil bahwa seseorang yang membawa virus tidak menggunakan masker, melaksanakan kontak dekat dengan orang yang rentan dan tidak menggunakan masker maka kemungkinan terjadi penularan 100%. Tapi apabila orang yang sakit membawa virus tidak menggunakan masker sementara orang lain yang rentan pada kontak dekatnya menggunakan masker kemungkinan penularan turun menjadi sekitar 70%. Namun apabila orang yang membawa virus menggunakan masker dan orang lain di sekitarnya tidak menggunakan masker maka penularan turun menjadi hanya 5%. Namun apabila dua-duanya menggunakan masker maka kemungkinan penularan turun drastis hanya 1,5%.
“Inilah yang meyakinkan kita bahwa menggunakan masker adalah cara yang paling tepat menekan penularan COVID-19. Sudah barang tentu gunakanlah masker dengan cara yang benar, menutup hidung dan mulut dengan baik. Ini yang harus menjadi perhatian bersama. Menjaga jarak juga menjadi sesuatu yang menentukan disamping sering mencuci tangan,” tukasnya. (ije)


















