YOGYA, fornews.co—Mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogya melakukan aksi unjuk rasa menolak jabatan presiden tiga periode di Jalan Adisucipto pada Selasa (12/4/2022) sore.
PMII menduga adanya upaya pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan melalui jabatan presiden tiga periode.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PMII Wilayah Yogya, Sayid Habiburokhman, usai aksi unjuk rasa di kawasan kampus UIN Yogyakarta.
“Jabatan presiden tiga periode dinilai tidak rasional, bahkan mencederai konstitusi,” ujarnya kepada fornews.co.
Sayid menyebut dalam amanat reformasi, konstitusi secara tegas mengatur dalam UUD 45 pasal 7 bahwa Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.
PMII menilai pemerintah telah abai terhadap permasalahan-permasalahan di Indonesia yang belakangan semakin memburuk.
“Hari ini rakyat masih menangis karena sulitnya mendapatkan minyak goreng murah,” kata Sayid.
Pemerintah Indonesia, sambungnya, juga lalai terhadap kenaikan harga BBM dan sembako yang mengakibatkan rakyat tercekik, menangis karena kesusahan.
Pihaknya menyayangkan pemerintah Indonesia yang tidak serius mengatasi situasi kacau yang belakangan terjadi di Indonesia terutama di bidang ekonomi.
Karena hal tersebut, PMII menyatakan penolakan adanya upaya amandemen undang-undang 45, menolak kenaikan harga BBM, menolak IKN, menolak kenaikan harga pokok, dan menuntut pemerintah untuk menuntaskan konflik agraria di Indonesia.
PMII mendesak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, agar segera mencopot menteri-menterinya yang tidak amanah.
Kepada pejabat wakil rakyat setempat, PMII akan kembali berunjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih banyak, jika, aksinya tidak ditanggapi.
Bahkan jika para pejabat menolak turun ke jalan menemui mahasiswa, PMII akan menggeruduk wakil rakyat.
“Temui kami atau kami yang akan menemui kalian!” (adam)

















