
PALEMBANG-Pengamat politik dan pemerintahan Sumsel Prof Dr Alfitri, M.Si menyatakan, saat ini sudah terjadi pergeseran dari beberapa isu demokrasi, yang tidak terlepas dari siapa yang bertarung dalam satu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
“Kebetulan sekarang, isunya adalah tentang agama dan etnis. Ini menarik, karena memang isu SARA sedang menjadi bagian dari proses demokrasi bersama. Ini sangat disayangkan, artinya nilai-nilai egaliter yang selama ini sudah ditanamkan, ternyata mulai memunculkan benih-benih perpecahan,” ujarnya, saat ditemui di Graha Universitas Sriwijaya (Unsri).
Prof Alfitri menuturkan, makna Sumpah Pemuda yang selama ini menjadi koridor untuk memperkuat integrasi nasional menjadi terganggu. Pilgub DKI Jakarta menjadi satu contoh dimana ada oknum yang sengaja memancing. “Oknum ini saya kira tidak mewakili unsur universal. Karena memang ada semacam karakter oknum, yang justru bisa memancing sensitifitas masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim,” tuturnya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unsri itu melanjutkan, oleh sebab itu, maka pergeseran ini jangan dianggap sebuah proses munculnya nilai-nilai baru dalam demokrasi. Tapi, lebih kepada oknum-oknum tertentu yang menimbulkan semacam pergesekan dikalangan umat Islam sekarang. “Saya kira aksi 4 November nanti berkaitan dengan bagaimana Pilkada itu mulai ditunggangi dengan isu-isu yang sensitive, ini ya isu SARA. Sebetulnya gampang untuk meredamnya, jika memang oknum tersebut harus meminta maaf dan ada jaminan itu di proses secara hukum. Sebenarnya itu saja untuk bisa meredam bagaimana integritas pulih kembali,” katanya.
Persoalannya, jelas Alfitri, itu tidak menjadi mudah, lantaran oknum yang bersangkutan saat ini berada dalam proses pertarungan politik. Karena dalam kondisi tersebut, maka menjadi sangat rentan jika proses hukum itu berjalan. Ini resikonya, ketika oknum itu sangat mudah melontarkan kata-kata yang menyinggung umat secara mayoritas. Karena, seorang pemimpin yang baik itu seyogyanya memang harus bisa mengeluarkan kata-kata bijak, menarik simpati publik, walaupun dari agama dan etnis yang berbeda. “saya kira ini pembelajaran besar, bagi siapa yang akan bertarung dalam politik, untuk bisa meredam isu-isu sensitif sebagai mengundang reaksi umat dari para pemilih,” tutupnya. (tul)

















