PALEMBANG, fornews.co – Meski Indonesia telah memiliki reaktor nuklir lebih dari 50 tahun lalu, namun hingga saat ini belum bisa dimaksimalkan sebagai pemasok energi listrik.
Hal itu disebabkan selalu adanya penolakan di masyarakat saat mendengar sosialisasi pembangunan reaktor nuklir di wilayahnya. Warga khawatir jika di wilayahnya terdapat reaktor nuklir, maka sewaktu-waktu terjadi hal yang tak diinginkan, maka mereka yang menjadi korban.
“Kalau (reaktor nuklir) energi memang belum. Sebab energi nuklir ini kan masih pro kontra, bayangannya (masyarakat) terlalu berat,” ujar Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto usai seminar nasional pemanfaatan tenaga nuklir di Hotel Horison Ultima Palembang, Rabu (04/07).
Menurut Djarot, kekhawatiran masyarakat itu memang cukup beralasan. Akan tetapi hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi BATAN untuk mengenalkan apa itu sebenarnya reaktor nuklir. Karena tanpa banyak masyarakat tahu, sebenarnya Indonesia sudah memiliki reaktor nuklir yang beroperasi lebih dari 50 tahun tanpa ada kendala seperti yang dikhawatirkan.
“Reaktor di Yogyakarta itu kombinasi desain kita dan desain Amerika Serikat. Reaktor Yogyakarta adalah pindahan Reaktor Bandung plus desain teman-teman era 70an. Itu jadi modal dasar kita juga punya Reaktor Bandung yang berusia lebih dari 52 tahun dan masih beroperasi dan berdampingan dengan kebun binatang. Bahkan orang-orang lebih takut dengan ular daripada ke reaktor nuklir. Ini bukti kalau kita bisa mengoperasikan reaktor lebih dari 50 tahun dan semua aman,” papar Djarot.
Lebih lanjut Djarot menerangkan, BATAN juga memiliki satu reaktor nuklir lagi di Serpong, Tangerang Selatan. Reaktor yang berada di komplek Puspitek tersebut merupakan buatan Jerman dan mampu menghasilkan daya listrik hingga 30 Mega Watt dan terbesar di Asia Pasifik.
“Sekarang kita ingin mengenalkan reaktor buatan kita. Tapi reaktor buatan kita harus sesuai keinginan stakeholder demand-nya apa. Demand Pertamina maunya termasuk uapnya juga bisa dipakai. Lalu demand di NTT bisa desalinasi, Papua ingin punya smelter. Jadi tidak hanya listrik saja, rupanya panas selain listrik mereka mau juga. Makanya ide Reaktor Daya Eksperimental (RDE) kita munculkan High Temperature Gas-Cooled Reactor untuk memenuhi demand tersebut,” katanya.
Seperti di Palembang, BATAN menandatangani MoU dengan PT Pusri untuk pemanfaatan reaktor nuklir. Pusri bisa memanfaatkan hasil desain reaktor nuklir dari BATAN bekerjasama dengan Universitas Sriwijaya. Adapun reaktor itu bisa dibangun kecil dulu dan dibesarkan kemudian.
“Belumlah, masih jauh. Biasanya kita diskusi mengenai pemanfaatan reaktor, apa yang dibutuhkan, kapan dibangun, lokasinya dimana. Sebab izin untuk membangun fasilitas nuklir itu panjang sekali. Lokasi, konstruksi dan seterusnya sampai operasi. Soal lokasi kita mengikuti saja, sebab memang gempa dan tsunami yang paling ditakutkan dan harus dicari tempat yang aman,” tuturnya.
Djarot menilai Sumatra Selatan berpotensi dibangun reaktor nuklir. Hal itu dikarenakan beberapa daerah di Sumsel potensi gempanya minimal. Artinya walau ada gempa tapi sedikit.
“Sebab kaitannya dengan reaktor nuklir, yang ditakutkan masyarakat adalah terjadinya gempa. Dari situlah kita bisa memilih lokasi untuk pemanfaatan pembangkit listrik dan tenaga uap di Sumsel,” pungkasnya. (ije)
















