“Program ini menanamkan sejak dini kepada anak untuk mengenal lebih dalam agama. Sangat sinergi dengan image Kota Palembang Darussalam. Mungkin tidak banyak yang mengetahui ini, tapi ini haruslah tetap diteruskan bagi pemerintah sekarang,” harapnya.
Bukan sebatas itu, pada kepemimpinannya yang hanya berlangsung tidak lebih dua tahun, namun ada yang bisa dirasakan masyarakat, dengan peningkatan wisata budaya dan religi. “Slogan Palembang EMAS, juga menjadi semangat masyarakat Palembang, menciptakan daerah ini yang endah, madani, aman juga sejahtera,” ucapnya.

Hal demikian juga dirasakan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BK-PSDM) Palembang, Ratu Dewa, yang masa kepemimpinan Romi Herton, menjabat Kabag Humas dan Protokol.
Diakui bahwa, bukan hanya tegas, populis, melainkan juga merakyat serta mengayomi bawahan. “Mungkin ini subjektif, tapi itulah yang saya rasakan, saat beliau (almarhum) menjadi pemimpin saya di pemerintahan,” ujarnya.
Mengenai dunia pendidikan, Romi juga konsisten dengan programnya. “Jam nol di sekolah, memang merupakan program almarhum, sebagai bentuk keinginan agar generasi penerus bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga disertai pemahaman agama,” bebernya.
Pantauan di lapangan, jenazah Romi Herton tiba dari Jakarta, ke rumah duda sekitar pukul 14.15 WIB. Sebelumnya almarhum disemayakan di Balai Kota sebagai penghormatan terakhir. Ratusan orang dari berbagai kalangan, memadati halam rumah duka untuk turut menyaksikan, mendoakan dan menghatarkan ke peristirahatan terakahir.
Untuk pemakaman sendiri, jenazah Romi Herton akan dikebumikan pada malam ini (masih perlu konfirmasi ulang), di tempat pemakaman umum (TPU) Kebun Bunga, Kecamatan Sukarame, Palembang, didekat makan orang tuanya H Abdul Hamid. (ibr)

















