LAHAT, fornews.co – Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Palembang Darussalam bekerjasama dengan Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Wilayah 1 Sumsel dan masyarakat Kecamatan Merapi Selatan serta Merapi Barat, Kabupaten Lahat melakukan penanaman 210 ribu pohon yang tersebar di delapan desa, Rabu (18/12).
Gerakan penghijauan yang diberi tema Gerakan HMI Selamatkan Bumi ini menurut Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Palembang Darussalam, Febri Walanda berawal dari keresahan terhadap maraknya aktivitas pertambangan di Sumsel yang terkadang kerap mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. Sebut saja seperti masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hingga masalah deforestasi serta penghijauan ulang lahan yang tak pernah terealisasi secara maksimal.
“Pemilihan lokasi Kabupaten Lahat sebagai titik awal Gerakan HMI Selamatkan Bumi ini tidak dikarenakan Kabupaten Lahat menjadi daerah yang beberapa tahun ini marak terdapat aktivitas pertambangan batu bara yang mana banyak sekali perusahaan tambang swasta yang cenderung tidak mengindahkan aspek kelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Jangankan untuk kelestarian lingkungan, lanjut Febri, untuk bantuan CSR kepada masyarakat di wilayah ring 1 pertambangan saja banyak sekali perusahaan tambang di Kabupaten Lahat (khususnya Kecamatan Merapi Selatan dan Merapi barat) yang abai. “Padahal itu kewajiban mereka selaku perusahan tambang sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku menurut Pasal 74 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT),” jelasnya.

Belum lagi, baru-baru ini masyarakat di Kabupaten Lahat juga sempat dihebohkan dengan kemunculan harimau yang berkeliaran hingga mengakibatkan konflik dan menyerang manusia. “Ini adalah bentuk buntut dari terganggunya habitat hewan tersebut akibat dari ekspansi tambang di wilayah Lahat, Muara Enim, Pagaralam dan sekitarnya,” tambahnya.
Masih kata Febri, upaya penghijauan ini disamping untuk melakukan upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan, gerakan ini juga bertujuan untuk menyindir dan mengkritik secara nyata perusahan pertambangan batubara yang selama ini mengabaikan masalah pelestarian lingkungan di wilayah daerah pertambangannya.
“Gerakan ini adalah langkah awal, dan kedepan kita akan lakukan gerakan yang lebih besar lagi bersama masyarakat, stakeholder terkait, kaum cendikiawan dan intelektual untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh perusahan pertambangan. Kabupaten Lahat menjadi titik awal, lalu kemudian kita akan bergerak di kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di Sumatera Selatan,” tegasnya.
Pada tahap awal ini desa yang wilayahnya menjadi tempat penghijauan di Kabupaten Lahat yaitu Kecamatan Merapi Selatan di Desa Suka Merindu, Desa Tanjung Beringin, Desa Geramat, Desa Lubuk Betung, Desa Perangai. Dan Kecamatan Merapi Barat di Desa Lebak Budi, Desa Negeri Agung dan Desa Ulak Pandan.
Ditambahkan Manager BPTH Wilayah 1, Riza Yanuardie SHut MSI, hendaknya pemegang IPPKH di Bukit Barisan Kabupaten Lahat, Muara Enim, Pagar Alam ini hendaknya lebih bijak dalam Opera dan tetap mengedepankan prinsip kelestarian, berkelanjutan, dan masyarakat sejahtera. “Kita melihat bahwa konflik manusia dgn harimau disebabkan habitatnya (hutan lindung) terganggu,” ujarnya.
“Dampak dari eksploitasi tambang (IPPKH) di kawasan lindung menyebabkan perubahan fungsi kawasan hutan (hutan lindung). Hutan lindung merupakan hulu Daerah aliran Sungai yang berdampak terhadap pemanfaatn air (hidrologi) di DAS bagian tengah dan hilir. untuk itu perlu evaluasi IPPKH di kawasan lindung (bukit barisan),” jelasnya.
Menanggapi kegiatan ini, Ketua Forum Kades Se-Kecamatan Merapi Selatan, Sarial Edwin (39) mengungkapkan bahwa pihaknya sabgt setuju dan mengapresiasi luar bisa kegiatan HMI ini. Ia menilai sudah seharusnya ada gerakan penghijauan kembali serta upaya pelestarian hutan lindung dan lahan konservasi yang rusak akibat aktivitas tambang. (rif)

















