YOGYAKARTA, fornews.co— Selokan Mataram sepanjang 31,2 kilometer dari Kali Progo hingga Kali Opak kembali diserbu pemburu ikan. Sebagian warga Sleman di sepanjang Selokan Mataram panen ikan setiap Selasa pekan kedua; setiap debit air dari Bendung Karangtalun, Kulon Progo diturunkan, Selasa (14/1/2020).
Bimo, salah seorang warga pencari ikan di Banyurejo, Tempel, Sleman, rutin menangkap ikan setiap debit air Selokan Mataram diturunkan.
“Ini sekadar hobi saja, mencari ikan disaat debit air turun,” katanya.
Setiap dua pekan pada minggu kedua dan keempat warga sekitar Selokan Mataram bersiap turun sungai. Mereka harus meringkas waktu menangkapi ikan sebelum debit air kembali mengalir normal.



“Penurunan debit air Selokan Mataram selama beberapa jam akan kembali normal seperti biasa pada sore harinya,” kata Bimo, Selasa.
Selain Saluran Mataram (Selokan Mataram), jaringan saluran irigasi induk Mataram ini terbagi pada jaringan saluran induk Karangtalun sepanjang lebih dari 3 kilometer dan Saluran Van der Wicjk sepanjang 17 kilometer.
Sudarso (65) warga Banyurejo, Tempel, Sleman, tidak pernah melewatkan hari yang ditunggu itu, ia memanfaatkan momen pengasatan (baca pengurangan debit air red.) aliran air yang dilakukan petugas irigasi.
“Biasanya para pencari ikan di Selokan Mataram bisa dari ujung sampai ujung,” kata Sudarso.
Baca: Sedekah Bumi: Ganti Sampah Dengan Ikan
Berbagai jenis ikan seperti hampala, gabus, lele, emas, wader, nila dan gurami, ditangkap dengan berbagai cara. Bahkan ada yang nekat menggunakan setrum.
Kepada fornews.co Sudarso bercerita desanya pernah rata dengan air dan material sewaktu Gunung Merapi terjadi erupsi sekitar tahun 50-an. Material yang terbawa oleh Sungai Krasak menggasak apa saja di depannya, kenang Sudarso.
“Kalau tidak salah Bendung Karangtalun itu untuk pengairan 30,000 hektar lahan pertanian di Yogyakarta,” katanya.
Setahu Suroso, air di Selokan Mataram mulai mengalir sekitar tahun 1945, dua tahun setelah saluran irigasi Mataram dibangun Jepang.

Namun Selokan Mataram masih luput dari perawatan. Misalnya sejumlah bangunan di pinggir Selokan Mataram yang tidak terawat. Sampah-sampah dan endapan lumpur di sepanjang Selokan Mataram sehingga mengakibatkan pendangkalan.
“Kalau saja di sini dibersihkan menjadi rapi dan bagus,” ujar Sukirno salah sau Kepala Dukuh di Seyegan bersama istrinya di teras rumah.
Istrinya menyela, warga pedukuhan juga pernah bergotong-royong membersihkan rumput dan sampah di sekitar Selokan Mataram. Meski setiap dua pekan debit air Selokan Selokan diperlambat dan mengalami pengurangan, namun soal kebersihan tidak pernah lagi dicek.
Baca: Caturharjo Bantul Gerakan 4000 Jogangan Sampah Organik
Diakui Sukirno sejak dua tahun belakangan tidak terlihat petugas yang melakukan perawatan Selokan Mataram yang melewati pedukuhannya.
“Apa dipasrahkan dukuh setempat nanti kebijakan pengerjaannya bagaimana ya monggo yang penting lingkungan di sini dapat terjaga bersih,” kata Sukirno.
“Ada pengelolaannya ada dananya kami siap!” pungkas Sukirno. (adam)
FORNEWS RESMI
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















