PALEMBANG, fornews.co-Kota Palembang termasuk dalam 24 kabupaten/kota yang direncanakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menerapkan Pendisiplinan Protokol Kesehatan.
Wali Kota Palembang, Harnojoyo, sebelumnya mengklaim kota yang dipimpinnya sudah siap untuk menjalani kehidupan new normal di tengah pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) ini. Padahal, Kota Palembang sendiri baru menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), lantaran tingkat kurva yang positif terjangkit OCIVD-19 terus meningkat.
Menanggapi hal itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang, dr Zulkhair Ali mengatakan, boleh-boleh saya mempersiapkan daerah menuju new normal. Hanya saja, untuk mempersiapkan itu tetap ada patokannya.
New normal versi Pemerintah RI, terang Zulkhair, bila tingkat penularan corona reproductive time (Rt) atau reproduksi efektif di suatu wilayah harus di bawah 1. Artinya, tidak ada lagi penularan virus corona antarmanusia di suatu wilayah yang ingin menerapkan new normal. Ini dihitung selama 14 hari dari tidak ada lagi laporan COVID-19.
“Kemudian, kesiapan sistem kesehatan. New normal akan berlaku jika kapasitas dan adaptasi sistem kesehatan di Indonesia sudah mendukung untuk pelayanan COVID-19, yang bukan tidak mungkin akan naik jika PSBB dilonggarkan. Berikutnya, jumlah test atau surveillance, yaitu kemampuan pemerintah untuk mengetes corona bisa memenuhi target mengetes dengan kapasitas 10-12 ribu per hari,”ungkap dia.
Zulkhair menerangkan, pihaknya juga sudah berdiskusi dengan IDI Wilayah Sumsel dan disampaikan Ketua IDI Sumsel, memang mau tidak mau kita harus menjalani new normal. Tapi memang perlu waktu dan sambil berjalan.
“Inikan lagi PSBB yang pertama, jadi ada syarat-syaratnya untuk mencapai new normal. Misalnya kasus COVID-19 ini sudah turun atau kurvanya sudah landai. Ya kita berharap mudah-mudahan saja. Karena bagaimanapun, pegawai-pegawai lain juga tak mungkin untuk tidak bekerja,” terang dia.
Lantas bagaimana dengan tingkat kedispilan masyarakat Palembang? Menurut Zulkhair, kalau berkaca dari seberapa tingkat kedisiplinan warga Palembang, nampaknya memang masih belum memadai.
Walau Sumsel khususnya Palembang sudah merasakan selama tiga bulan ini, serta dilihat masih pada kondisi PSBB yang baru beberapa hari ini, masih banyak yang tidak taat.
“Misalnya saja memakai masker. Masih banyak juga yang memakai masker di dagu. Jadi ada unsur keterpaksaan. Jangan jauh-jauh, pasien saya saja kalau kita lengah dikit dia buka maskernya. Dia belum menganggap bahwa masker itu kebutuhan untuk melindungi diri dari penyakit. Seolah-olah itu masih jadi perintah kamu harus pakai masker, tapi tidak tahu manfaatnya apa. Mereka masih tidak takut untuk berkerumun ramai-ramai,” ujar dia.
Mungkin tingkat kedisplinan masyarakat Palembang terhadap protokol kesehatan ini, tutur Zulkhair, baru pada kisaran 60 persen. Itu juga tergantung dengan pendidikan mereka. Meski ada juga pegawai di satu lembaga yang masih menganggap aman dengan tidak menggunakan masker saat bekerja.
“Karena justru dengan new normal ini pengawasan itu lebih ketat. Tidak lagi dibatasi hanya poin-poin tertentu, bahkan jumlah personal tentara dan polisi itu malah ditingkatkan,” tutur dia.
IDI Palembang berharap, PSBB di Palembang ini berjalan dengan seseriusnya dan untuk new normal dapat disiapkan dengan sebaik-baiknya. Karena, ketika new normal itu terjadi seminggu atau entah sebulan lagi, maka semua akan masuk kesana.
“Hanya saja, saat ini Palembang lagi fase meningkat, makanya dari IDI Wilayah Sumsel sudah menyarankan, kapan akan memulainya? Kalau memang angkanya itu satu berbanding satu saja jadilah. Memang angka kematian di Sumsel, khususnya di Palembang masih rendah, tapi itu bukan berarti kita sudah siap,” tandas dia. (aha)

















