PALEMBANG, fornews.co – Dalam rangka peningkatan kapasitas anggota, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palembang, yang disupport AJI Indonesia, sosialisasikan Kode Perliku Jurnalis.
Dalam penyampaiannya, Koordinator Wilayah (Korwil) Sumatra AJI Indonesia Hendra Makmur menyampaikan, semakin ke sini (era teknologi digital) persoalan jurnalis semakin kompleks. Belum lagi kondisi tersebut “mengharuskan” perilaku masyarakat menggunakan media sosial (Medsos) semakin tinggi.
Kemudian, muncul tantangan akan penyebaran informasi hoax “berkeliaran” di Medsos. Selanjutnya, lahirnya regulasi, meski bertujuan menangkal bentuk kejahatan hoax yang dapat memecah belah kebhinekaan. Yang ini justru berimbas atau menjadi ancaman akan kemerdekaan pers sepeti UU ITE.
Hal ini juga mendesak peranan organisasi pers dalam hal ini AJI, terus mendorong anggotanya di AJI Kota membentengi diri sehingga tetap menjaga marwah dan semangat perjuangan pendiri (AJI) guna melahirkan jurnalis profesional, berintegritas dan terus memperjuangkan kesejahteraan serta kemerdekaan pers juga kebebasan berekapresi.
“Dari hasil Kongres dan Rakernas AJI Indonesia baru-baru ini, tentu AJI akan tetap kosisten dengan garis perjuangan yang selama ini dan seterusnya akan dijaga salah satunya menerbitkan Kode Perilaku AJI. Oleh karenanya, yang sangat penting dalam kemajuan organisasi, perkuat kapasitas anggota (internal),” ujar Hendra, dalam acara Upgrading anggota AJI Palembang sekaligus sosialisasi Kode Perilaku AJI, Rabu (28/03/2018).
Mantan Ketua AJI Kota Padang, ini menjelaskan bahwa terbitnya Kode Perilaku yang disahkan di forum tertinggi organisasi (Kongres) yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, pada November 2017 lalu, itu merupakan kerangka acuan bagi anggota AJI bukan hanya aktivitasnya sebagai jurnalis. Melainkan juga mengatur individu anggota AJI agar menggunakan media sosial tetap berlandaskan kaedah jurnalistik.
“Kode perilaku ini sebenanrnya penjabaran dari Kode Etik AJI, serta tidak menutup diri dengan kemajuan anggota seperti banyak anggota AJI yang saat ini membangun media starup. Ini merupakan peluang dan kekuatan kita mendorong kesejahteraan jurnalis, yang selama ini diperjuangkan,” terangnya.
Mengenai kapasitas anggota AJI Palembang, diakui Hendra, perlu diperkuat diberbagai lini, mulai advokasi, serikat kerja, manajerial organisasi hingga dana usaha dengan strategi plant yang matang dan terukur sehingga organisasi ini akan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kebebasan pera dan kemerdekaan berekspresi sebagaimana mandat Konstitusi dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
“Saya melihat, potensi AJI Palembang sangat besar dan semangatnya juga untuk membesarkan organisasi tidak diragukan. Tapi harus juga ditunjang dengan pemahaman yang matang tentang organisasi dan lainnya. Ini juga berlaku bagi AJI Kota lainnya, meski ada yang sudah baik,” ucapnya.
Sementara, Ketua AJI Palembang Ibrahim Arsyad menyampaikan, upgrading anggota terkait organisasi (keAJI-an) ini suatu keharusan. Ia menyadari, masih banyak persoalan internal yang mesti diberesi terutama kaitannya dengan kapasitas anggota memahami apa itu AJI. Terutama ditataran pengurus, yang notabene bertanggung jawab terhadap organisasi.
“Kita punya tugas berat, selain edukasi juga menyuaran serta memperjuangkan kebebasan pers. Di sana ada tugas advokasi, upah layak bagi jurnalis (kesejahteraan), dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Ia menyebutkan, di usia AJI Palembang yang menginjak usia 20, belum banyak bisa dilakukan dan hal itu menjadi PR kepengurusan saat ini. “Kita akan berupaya menyelesaikan satu persatu hingga selesai, sehingga kepengurusan ke depan bisa berbuat lebih lagi untuk organisasi (khususnya) dan masyarakat jurnalisme,” harapnya seraya mengatakan, peserta dalam kegiatan Upgrading yang digelar selama dua hari (28-29 April 2018) ini, diikuti sekitar 20 orang baik pengurua maupun anggota dan calon anggota.
Sebagai informasi saat ini anggota AJI Palembang yang aktif ada sekitar 32 anggota. Dalam perjalanannya, AJI Palembang bukan memprioritaskan banyaknya anggota (kuantitas). Melainkan, bagaimana anggota yang tidak mencapai 100 orang ini memiliki kredibilitas tinggi sebagai seorang jurnalis. (bas)
















